Swing Voters Bandar Lampung Berpotensi Golput di Pilkada 2024

Swing Voters Bandar Lampung Berpotensi Golput di Pilkada 2024
Kantor KPU Kota Bandar Lampung, Jalan Pulau Sebesi, Sukarame. Foto: Josua Napitupulu

KIRKA – Pemilih mengambang atau Swing Voters Bandar Lampung berpotensi golput di Pilkada 2024.

Wakil Dekan FISIP Universitas Lampung, Dr Dedy Hermawan, menjelaskan golongan putih (golput) atau tidak menggunakan hak pilih pada Pilkada Bandar Lampung 2024 juga dijamin oleh konstitusi dalam berdemokrasi.

“Pemilih rasional ini independen, punya kebebasan, karena tidak menggunakan hak pilihnya adalah hak juga. Mereka ini betul-betul menegakkan independensinya berdasarkan referensi yang cukup,” kata dia di Bandar Lampung pada Jumat, 19 Agustus 2022.

Dedy Hermawan menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka Swing Voters Bandar Lampung.

Mulai dari figur, partai politik pengusung, program visi misi, dan pendamping figur.

“Mereka ini kelompok kritis yang belum mau mengeluarkan pendapatnya. Mungkin menunggu proses verifikasi dan apa yang akan dilakukan oleh parpol di waktu mendatang,” ujar dia.

Pemilih mengambang, lanjut dia, mayoritas berada di perkotaan dari masyarakat kalangan menengah ke atas.

“Wajar kalau yang 51 persen itu masih menunggu perkembangan dinamika ke depannya dengan banyak variabel tadi,” kata Dedy Hermawan lagi.

Survei Rakata Institute di Kota Bandar Lampung untuk Pilkada 2024 pada Pilgub Lampung menyebutkan Swing Voters sebesar 68,10 persen.

Kemudian Swing Voters untuk Pilkada Bandar Lampung 2024 disebutkan sebesar 51 persen.

Survei Preferensi Publik Bandar Lampung terhadap Partai Politik, Kandidat Presiden RI, Kandidat Gubernur Lampung, dan Kandidat Wali Kota Tahun 2024, dilakukan pada 1-5 Agustus 2022 dan dirilis pada 17 Agustus 2022.

Baca Juga: Rakata Institute Sebut Swing Voters di Bandar Lampung untuk Pilkada 2024 Tinggi 

Turunkan Angka Swing Voters Bandar Lampung Lewat Program Sosialisasi

Komisioner KPU Bandar Lampung, Fery Triatmojo, menjelaskan salah satu faktor tingginya angka Swing Voters disebabkan masih minimnya informasi tahapan pemilu dan pemilihan.

“Seseorang akan memilih kalau sudah tahu kapan waktu pelaksanaan pemilihan. Boleh jadi seseorang belum akan menggunakan hak pilihnya karena dia belum tahu. Faktor akses informasi itu yang utama,” ujar dia.

Saat ini, lanjut Fery Triatmojo, KPU sedang fokus pada penyelenggaraan pemilu 14 Februari 2024 belum pada pelaksanaan pilkada 27 November 2024.

“Pada saatnya nanti KPU akan melakukan sosialisasi terhadap pelaksanaan pilkada. Saya yakin, ketika sosialisasi pendidikan pemilih masif dilakukan oleh KPU, pasti akan menurunkan tingkat pemilih mengambang atau belum ingin berpartisipasi,” tutup dia.

Dedy Hermawan menilai Swing Voters Bandar Lampung berpotensi golput di Pilkada 2024 karena riset Rakata Institute menyebutkan 62,14 persen responden mengetahui penyelenggaraan Pemilu 2024 dan 37,86 persen menjawab tidak tahu.