Kirka – Keputusan Pengurus Provinsi Persambi Lampung menurunkan lapis muda pada Kejuaraan Bela Diri Sambo dan Blind Sambo Open Gubernur Sumatera Selatan Cup 2026 berbuah manis.
Absennya para petarung senior rupanya tidak menyurutkan daya gedor kontingen.
Dari 12 nama yang berangkat, mereka justru sukses merampas tujuh medali emas.
Berlaga di Palembang Square Mall selama dua hari, 25-26 Juli 2026, dominasi atlet dari Bumi Ruwa Jurai sulit dibendung.
Hampir seluruh delegasi menembus partai puncak.
Tercatat 10 atlet berhasil lolos ke final untuk kemudian pulang membawa total 12 keping medali, dengan rincian tujuh emas, tiga perak, serta dua perunggu.
Ketua Persambi Lampung, Asril Isnur, mengatakan sejak awal pihaknya memang fokus mengejar target kelas kadet (di bawah 16 tahun) maupun junior (16-20 tahun).
Amunisi utama sedang disiapkan untuk agenda lain. Meski begitu, kualitas atlet pelapis ternyata mampu mengimbangi tekanan di atas matras.
“Empat emas datang dari kelas kadet, sisanya tiga keping dari kelompok junior.
“Meloloskan 10 orang ke final bermodal skuad pelapis adalah hasil di luar dugaan,” kata Asril, Selasa, 28 Juli 2026.
Dominasi kontingen di kelas kadet dikunci lewat kemenangan Rafikar Adi Yusuf dan Sendi Bima Saputra pada nomor -51 kilogram putra.
M. Zohaep Makruf melengkapi kejayaan sektor putra setelah menjuarai kelas -57 kilogram.
Satu keping tambahan berhasil diamankan Kanaya Hafika dari arena -40 kilogram putri.
Beralih ke kategori junior, giliran para srikandi yang menguasai gelanggang.
Tiga atlet putri tampil menonjol tanpa ampun. Saskia Maheswari Setiawan (-54 kg), Rafita Nur Anraini (-71 kg), hingga Silfi Agustin (+72 kg) kompak menyapu bersih podium utama pada kelasnya masing-masing.
Kejuaraan di Sumatera Selatan sejatinya menjadi batu loncatan pengurus daerah.
Persaingan berlangsung cukup ketat karena melibatkan petarung lintas kota seperti Medan, Bogor, Bandung, Banjarmasin, hingga Bengkulu.
Menurut Asril, jam terbang melawan daerah lain amat dibutuhkan guna mengasah ketajaman insting bertarung atlet sebelum naik ke level senior.
“Latihan keras di pemusatan saja kurang cukup. Mental petarung baru benar-benar terbentuk kalau sering menghadapi lawan baru. Makin sering naik matras, permainannya makin matang,” tuturnya.
Keberhasilan di Palembang kini menjadi angin segar bagi pembinaan olahraga bela diri asal Rusia di wilayah Lampung.
Rentetan medali dari barisan muda akan menjadi modal berharga menatap persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke depan, apalagi jika sambo kembali masuk dalam agenda resmi pertandingan.






