Dari Travel Fair hingga Destinasi, Lampung Berbenah Menyambut Dunia

Dari Travel Fair hingga Destinasi, Lampung Berbenah Menyambut Dunia
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menekankan pentingnya kesiapan destinasi dan tingkat keterisian penumpang agar rute penerbangan internasional Lampung terus berkelanjutan serta tidak sekadar ramai di awal peresmian. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Euforia pembukaan penerbangan internasional tidak boleh membuat Lampung terlena.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang aksesibilitas jalur udara akan sia-sia jika tidak diimbangi kesiapan menyeluruh pada sektor pariwisata daerah.

Tujuannya jelas, agar rute ke luar negeri tidak sekadar ramai saat peresmian lalu sepi peminat pada bulan-bulan berikutnya.

Dalam membedah peluang ekonomi daerah, Mahendra menekankan perlunya pembenahan dari hulu ke hilir.

Kehadiran tamu mancanegara menuntut pelaku usaha, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta masyarakat bersikap layaknya tuan rumah profesional.

Beberapa poin prioritas yang disorot meliputi peningkatan kualitas layanan sarana liburan, penyediaan tenaga kerja yang cakap berbahasa asing, hingga kampanye wisata yang digarap secara masif.

“Modal besar pariwisata kita harus dieksekusi secara konsisten lewat kolaborasi nyata,” tegas Mahendra, Jumat, 14 Agustus 2026.

Langkah konkret merawat pangsa pasar rupanya langsung diwujudkan oleh pelaku industri.

DPD ASITA Lampung bersiap menggelar Travel Fair 2026 pada penghujung Oktober nanti.

Ketua DPD ASITA Lampung, Ahmad Al-Akhran, sengaja merancang pameran dengan konsep Business to Consumer (B2C) agar biro perjalanan bisa langsung menawarkan paket liburan kepada warga.

Skema transaksi langsung diperkuat lewat kolaborasi bersama Tourism Malaysia untuk agenda promosi timbal balik.

“Jadi kita langsung menjualkan paket perjalanan wisata kepada konsumen,” papar Ahmad.

Ia meyakini tingkat keterisian penumpang merupakan kunci utama agar ekosistem penerbangan antar negara semakin kuat.

Dukungan fasilitas udara sejalan dengan bidikan pemerintah provinsi dalam mengembangkan daya tarik wisata minat khusus.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal tengah fokus mempromosikan kawasan selancar kelas dunia di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, sebagai primadona penyedot pelancong asing.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jihan Nurlela membaca peluang pergerakan penumpang dari tingginya animo perjalanan ibadah.

Angkanya cukup menjanjikan, rata-rata terdapat 24 ribu jemaah umrah saban tahun dan kuota haji sebanyak 5.827 orang dengan masa tunggu 26 tahun.

“Ini soal efisiensi biaya dan kemudahan akses bagi masyarakat,” kata Jihan, menanggapi keuntungan pemangkasan waktu tempuh berkat jadwal terbang tanpa transit.

Mengamati manuver lintas sektor belakangan waktu, Mahendra menyebut pameran garapan ASITA sebagai batu loncatan yang cerdas dalam merangkul konsumen.

“Keberhasilan jangka panjang sekarang bergantung penuh pada ketelatenan daerah menyajikan pengalaman bertaraf global, sekaligus memastikan permintaan tiket pesawat terus mengalir,” pungkas Mahendra.