BPS Metro Bantah Biaya Hidup di Kotanya Mahal

BPS Metro Bantah Biaya Hidup di Kotanya Mahal
Kepala BPS Kota Metro, Wintarti. Foto: Istimewa

KIRKABPS Metro bantah biaya hidup di Kotanya mahal, jika dilihat dari kategori data pengeluaran rumah tangga konsumsi hasil SBH BPS RI di 2018.

Baca Juga: Biaya Hidup di Kota Metro Lampung Tinggi

Hal itu diutarakan oleh Wintarti Dyah Indriani selaku Kepala Badan Pusat Statistik Kota Metro, yang menjelaskan bahwa daerahnya merupakan Kota Terendah dalam sisi pengeluaran Rumah Tangga Konsumsi.

Tak seperti pada berita yang beredar saat ini, tentang rilis BPS RI terhadap Kota Metro, dimana disebutkan pada daerah tersebut merupakan Kota dengan biaya tertinggi di Provinsi Lampung.

“Untuk pengeluaran konsumsi kita itu berada di bawah Bandar Lampung angkanya, jadi lebih tinggi biaya hidup di Bandar Lampung sebenarnya. Tapi untuk yang pengeluaran non konsumsi, kebetulan sampel (responden-red) kita waktu itu di 2018 untuk Metro itu banyak yang pengusaha, sehingga pengeluaran untuk usaha tercatat di dalam pendataan SBH, itu yang menyebabkan pengeluaran non konsumsi di Kota Metro menjadi lebih besar dibandingkan Bandar Lampung,” jelasnya, Selasa 8 November 2022.

Baca Juga: Balai Rehabilitas Adhyaksa di Kota Metro

Ia menguraikan, bahwa dari data Survey Biaya Hidup 2018 BPS RI sendiri, merangkum dua kategori pengeluaran rumah tangga, yakni Pengeluaran Rumah Tangga Konsumsi, serta Pengeluaran Rumah Tangga Non Konsumsi.

Dimana dijelaskan, Kota Metro tercatat memiliki nilai Pengeluaran Per Rumah Tangga di setiap Bulannya adalah sebesar Rp5.757.063, yang kemudian dibandingkan dengan angka lebih tinggi yakni dengan Bandar Lampung, yang tercatat di angka Rp8.089.825.

Dan selanjutnya pada sisi Pengeluaran Rumah Tangga Non Konsumsi Per Rumah Tangga di setiap Bulannya, untuk Kota Metro disebutkan berada di angka Rp6.469.250, dan Bandar Lampung sendiri hanya berada di angka Rp1.977.081.

“Jika dilihat dari kacamata ekonomi, di Kota Metro justru terjadi pertumbuhan ekonomi. Bahwa Kota Metro diminati untuk pengembangan usaha, karena pengeluaran non konsumsinya lebih tinggi dibandingkan Bandar Lampung. Banyak yang merintis usaha di Metro, sehingga pengeluaran untuk usahanya menjadi lebih besar di 2018 itu, dan kebetulan mereka terkena sampel kita, sampel SBH tahun 2018,” lanjutnya.

Baca Juga: BPS: pengangguran di Lampung bukan pengangguran terdidik

Untuk diketahui, Survey Biaya Hidup yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia ini, merupakan agenda lima tahunan sekali. Yang saat ini tengah turut pula dilaksanakan, dan akan segera dipublikasikan hasilnya pada 2024 mendatang.