Anggaran Singapura 2026: Apa Artinya Bagi Indonesia dan Peluang Emas untuk Lampung

Anggaran Singapura 2026: Apa Artinya Bagi Indonesia dan Peluang Emas untuk Lampung
Ilustrasi visual strategi sinergi ekonomi baru antara Singapura dan Lampung. Foto: Arsip DBS/Kirka/I

Kirka – Pidato Anggaran Negara Singapura 2026 yang disampaikan Perdana Menteri Lawrence Wong pada 12 Februari lalu dinilai membawa sinyal penting bagi perekonomian Indonesia, khususnya Provinsi Lampung.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura yang terkoreksi drastis ke kisaran 0-2 persen pada 2025.

Menurutnya, situasi ini, ditambah dengan kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto terkait pembatasan ekspor bahan mentah, menciptakan peluang emas bagi daerah penghasil komoditas seperti Lampung untuk mengambil peran lebih besar.

“Singapura sedang menghadapi tantangan demografi dan ketergantungan impor pangan serta energi.

“Di sisi lain, Indonesia di bawah Presiden Prabowo mengambil langkah berani menyetop ekspor bahan mentah.

“Ini mengubah peta permainan, kita tidak lagi sekadar menjadi tukang gali atau pemasok bahan baku murah,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Minggu, 15 Februari 2026.

Peluang Hilirisasi di Lampung

Mahendra menegaskan, kebijakan nasional tersebut harus disambut cepat oleh para pelaku usaha di daerah.

Ia menilai Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah memberikan sinyal kuat untuk pengembangan sektor pertanian dan pariwisata yang harus direspons dengan aksi nyata.

Secara spesifik, Mahendra mencontohkan komoditas unggulan seperti kopi dan kelapa sawit.

Ia menyayangkan jika Robusta Lampung yang sudah mendunia masih diekspor dalam bentuk biji mentah.

“Nilai jual kopi bisa naik tiga sampai lima kali lipat jika kita olah menjadi specialty coffee dengan kemasan dan narasi yang kuat.

“Begitu juga sawit, jangan hanya jual CPO, tapi masuk ke produk turunan seperti sabun premium atau kosmetik. Pasar lokal kita besar, dan peluang ekspor produk jadi sangat terbuka,” jelasnya.

Alternatif Wisata

Selain sektor komoditas, Mahendra juga melihat celah di sektor pariwisata.

Kebijakan Singapura menaikkan pajak pariwisata dinilai akan membuat biaya wisata ke negara tersebut semakin tinggi.

Hal itu menjadi peluang bagi destinasi wisata di Lampung seperti Taman Nasional Way Kambas, Pesisir Barat, dan Pulau Pahawang untuk menarik wisatawan.

“Infrastruktur kita membaik, jalan tol dan pelabuhan sudah mendukung.

“Dengan harga yang lebih bersahabat dibanding Singapura, Lampung bisa menjadi destinasi alternatif utama. Syaratnya, promosi dan fasilitas harus terus dipoles,” tambah Mahendra.

Kolaborasi dan Klaster Industri

Untuk merealisasikan potensi tersebut, Mahendra mendorong terbentuknya klaster industri yang terintegrasi, mulai dari petani, pengolah, hingga eksportir.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pengusaha lokal dengan jaringan bisnis di Jakarta maupun luar negeri.

“Momentum tidak akan datang dua kali. Ada keselarasan antara kebijakan pusat, dukungan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, dan pergeseran ekonomi regional.

“Pengusaha Lampung harus jemput bola, lakukan diversifikasi pasar, dan jangan hanya menunggu,” pungkas Mahendra.