Kirka – Rangkaian lawatan diplomatik Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara sahabat bukan sekadar agenda seremonial apalagi ajang bertukar jabat tangan semata.
Eksponen 98, Mahendra Utama, memandang pergerakan sang presiden murni sebagai wujud implementasi economic statecraft, yakni kepiawaian memanfaatkan relasi politik luar negeri demi meraup keuntungan ekonomi strategis bagi Indonesia.
Menurut Mahendra, tolok ukur kesuksesan diplomasi pemerintah bertumpu pada seberapa besar aliran penanaman modal, perluasan pasar, alih teknologi, hingga penciptaan lapangan kerja baru yang sanggup ditarik ke dalam negeri.
Pendekatan bersama China menjadi salah satu contoh paling gamblang.
Kesepakatan Jakarta dan Beijing kini merambah sektor pengolahan mineral, energi, kecerdasan buatan, kereta api, industri hijau, sampai urusan pertahanan.
Angka investasi dari Negeri Tirai Bambu bahkan sukses menyentuh angka US$3,9 miliar pada paruh pertama 2026.
Langkah serupa diterapkan saat berkomunikasi dengan Prancis dan India.
Pertemuan bersama Presiden Emmanuel Macron secara spesifik mendorong pembentukan High Level Business Council, pengembangan energi bersih, riset, serta percepatan kesepakatan IEU-CEPA.
Sementara arah perbincangan bersama India difokuskan pada penguatan kemitraan komprehensif guna menjaga stabilitas kawasan Indo Pasifik sekaligus menyuarakan hak negara-negara Global South.
Mahendra mengingatkan, ujung dari seluruh manuver lintas benua tadi bermuara pada satu peta jalan utama, hilirisasi.
Ia menegaskan kekayaan alam republik pantang diekspor dalam bentuk bahan mentah belaka.
“Pasar kita jangan cuma jadi lapak jualan produk asing. Teknologi harus masuk, kapasitas industri wajib tumbuh, dan tenaga kerja lokal harus naik kelas,” ujar Mahendra membedah prioritas ekonomi pemerintah, Senin, 24 Agustus 2026.
Ia sangat menyadari strategi membangun jejaring ekonomi multipolar pasti membawa risiko tersendiri, terutama tantangan menyeimbangkan ragam kepentingan kekuatan global.
Namun, selama teguh memegang pedoman bebas aktif, manuver diplomasi luar negeri akan menjelma menjadi modal kuat mewujudkan bangsa yang berdaulat secara politik, tangguh dari segi militer, dan berdaya saing tinggi di sektor industri.
“Kuncinya bukan pada tebak-tebakan siapa teman kita. Poin utamanya adalah memastikan seluruh kemitraan bekerja sepenuh-penuhnya demi kesejahteraan bangsa,” ucap Mahendra mengakhiri penjelasan.






