Kebut Penyelesaian Skripsi, Fosmaki FKIP Unila Terapkan Konsep Hybrid pada Seminar SMART 2026

Kebut Penyelesaian Skripsi, Fosmaki FKIP Unila Terapkan Konsep Hybrid pada Seminar SMART 2026
Suasana keakraban pada penutupan Seminar SMART 2026 garapan Fosmaki FKIP Unila di Aula A. Foto: Arsip Fosmaki/Kirka/I

Kirka – Forum Silaturahmi Mahasiswa Pendidikan Kimia (Fosmaki) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) sukses menyelenggarakan Seminar Mastery of Research and Undergraduate Thesis (SMART) 2026.

Berlangsung di Aula A kampus setempat pada 13 Juni 2026 lalu, agenda akademik tahunan tersebut membekali mahasiswa tingkat akhir agar lebih sistematis merampungkan penelitian skripsi.

Berbeda dari pelaksanaan edisi sebelumnya, penyelenggara kini menerapkan skema hybrid learning untuk mengefisienkan waktu.

Sebelum sesi tatap muka bergulir, seluruh peserta diarahkan menyimak pemaparan materi dari para narasumber melalui tayangan video secara daring.

Strategi pembelajaran campuran terbukti efektif memangkas durasi penjelasan teori dasar.

Alhasil, pertemuan luring dapat difokuskan murni pada pemecahan masalah serta bedah kasus melalui daftar pertanyaan yang telah dihimpun panitia via formulir digital.

Ketua Pelaksana SMART 2026, Amelia Ayuningtyas, mengungkapkan program Bidang Pendidikan Fosmaki lahir dari keresahan klasik di kalangan mahasiswa.

Kesulitan menentukan topik, kebingungan memilih metode riset, hingga minimnya kesiapan mental seringkali menjadi faktor utama tertundanya kelulusan.

“Melalui SMART, kami menargetkan mahasiswa memiliki pemahaman komprehensif tentang riset sejak awal.

Persiapan matang di tahap awal sangat menentukan lahirnya karya ilmiah yang berkualitas,” jelas Amelia.

Guna mengurai kebuntuan metodologi, panitia menghadirkan dosen pembina Dr. Bayu Saputra, S.Pd., M.Pd., bersama tiga praktisi pendidikan yang merupakan alumni program studi bersangkutan, Nicolas Arya Saputra, Rona Wirda Triani, dan Feri Andriyanto.

Sesi inti membedah dua pendekatan yang mendominasi riset pendidikan kimia, yakni penelitian pengembangan (Research and Development) dan metode eksperimen.

Sesi diskusi luring berjalan dinamis dan taktis. Menjawab keraguan peserta seputar kaidah penarikan sampel, Feri Andriyanto menyoroti krusialnya kesetaraan karakteristik subjek sebelum perlakuan diberikan.

“Dalam riset eksperimental, kelas eksperimen dan kelas kontrol wajib memiliki landasan kemampuan awal yang seimbang.

“Ketimpangan prasyarat akan membuat hasil penelitian gagal mengukur secara valid efek dari treatment yang kita uji,” papar Feri membagikan kiat penyusunan metodologi.

Dari kacamata institusi, kelancaran tugas akhir tidak semata urusan nilai individu.

Dr. Bayu Saputra menegaskan percepatan masa studi berdampak langsung terhadap reputasi serta mutu pendidikan di kampus.

Tingkat kelulusan tepat waktu menjadi indikator penyokong utama dalam mendongkrak status akreditasi sebuah program studi.

“Pesan saya kepada seluruh mahasiswa selalu teguh, usahakan lulus tepat waktu, bukan sekadar lulus pada waktu yang tepat,” tegas pakar pendidikan kimia tersebut.

Pendekatan taktis lintas angkatan dalam mengawal kualitas skripsi mendapat respons positif.

Sejumlah peserta mengaku wawasan mereka jauh lebih terbuka usai membedah langsung contoh kasus riset.

Pengalaman nyata dari para lulusan dinilai sangat krusial sebagai peta jalan dalam menghindari kesalahan mendasar penyusunan tugas akhir.