KIRKA – YKWS dan Pattiro dorong aksi perubahan iklim di sektor pertanian Lampung Timur.
Koordinator Program Voice of Inclusiveness Climate Resilience Action (VICRA), Isyanto, menjelaskan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan awal program VICRA atau Suara untuk Aksi Berketahanan Iklim di Lampung Timur.
Baca Juga : Aduan Dinas PSDA Lampung Dinyatakan Lengkap
“Hasil identifikasi lapangan yang telah kami lakukan, kerentanan akibat perubahan iklim ini terjadi karena kondisi yang ekstrem kering, ekstrem basah, dan serangan hama penyakit. Sehingga perlu tindaklanjut untuk mengantisipasi kondisi musim tanam gadu ini,” kata dia dalam keterangannya pada Kamis, 19 Mei 2022.
Kepala UPTD PSDA Wilayah II Provinsi Lampung, Yeni Rianto, menyampaikan salah satu antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan efisiensi pola pengairan dan pola tanam yang dilakukan oleh tim PSDA dan para petani.
“Selama ini kan belum terkoordinir sehingga datangnya air tidak sesuai dengan kesiapan petani untuk pengolahan lahan. Sedangkan kebutuhan air pada setiap tahapan itu berbeda,” ujar dia.
Sementara Asisten II Bidang Bidang Perekonomian dan Pembangunan Lampung Timur, M Yusuf HR, mengatakan bahwa sebagian petani masih berpegang pada perhitungan mongso.
“Hal tersebut membuat petani tidak melakukan olah lahan dan proses tanam apabila belum masuk mongso yang dimaksud,” kata Yusuf.
Menurut dia, perhitungan mongso saat ini sudah tidak relevan lantaran adanya pengaruh dari perubahan iklim yang mengakibatkan penentuan musim menjadi tidak pasti.
“Ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca ekstrem bahkan mempengaruhi jumlah hama penyakit di lahan pertanian,” ujar dia.
Selain faktor alam, lanjut Yusuf, sektor pertanian juga dihadapkan dengan keterbatasan SDM pengelola lahan pertanian dimana sebagian besar buruh tandur saat ini merupakan perempuan-perempuan berusia lanjut.
Hal serupa juga diamini oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas KPTPH, Sutrisna.
“Anak-anak muda sekarang lebih banyak memilih bekerja ke kota. Jika menggunakan alat, komponen alat juga mahal sekali. Selain itu, tidak semua lahan bisa dijangkau. Dan ada beberapa wilayah yang menolak karena tradisi masyarakat untuk panen bawon,” kata Sutrisna.
Baca Juga : Kegiatan Dinas PSDA Lampung Patut Diduga KKN
Direktur Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), Febrilia Ekawati, mengatakan kolaborasi YKWS dan Pattiro dorong aksi perubahan iklim di sektor pertanian Lampung Timur lewat Program VICRA.
“Tim berencana untuk melakukan aksi tindak lanjut terhadap adanya komisi irigasi di tingkat kabupaten dan kecamatan sebagai upaya menghadapi musim tanam gadu,” ujar dia.






