Sisa 1.618 Km, Era Prabowo Kebut Megaproyek Tol Trans Sumatera dari Lampung sampai Aceh 

Sisa 1.618 Km, Era Prabowo Kebut Megaproyek Tol Trans Sumatera dari Lampung sampai Aceh 
Peta target percepatan pembangunan Tol Trans Sumatera era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memprioritaskan penyelesaian sisa 1.618 km jalan tol untuk menghubungkan Lampung hingga Aceh. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memacu penyelesaian megaproyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Menjadi urat nadi konektivitas yang membentang dari daratan Lampung hingga Aceh, proyek raksasa ini kembali masuk dalam daftar prioritas Proyek Strategis Nasional (PSN) demi menuntaskan sisa ruas sepanjang 1.618 kilometer yang belum terbangun.

Keseriusan kabinet baru dalam mengeksekusi infrastruktur ini tertuang jelas melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.

Lewat beleid tersebut, pemerintah mengunci komitmen percepatan pembangunan agar sabuk aspal di Pulau Andalas tidak mangkrak di tengah jalan.

Pemerintah bahkan menyiapkan skema mitigasi ketat jika terjadi hambatan di lapangan.

Terdapat klausul yang mewajibkan evaluasi langsung ke tingkat kementerian koordinator.

“Dalam hal Proyek Strategis Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diselesaikan tepat waktu, penanggung jawab Proyek Strategis Nasional melaporkan pelaksanaan dan usulan revisi rencana penyelesaian kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,” demikian bunyi Pasal 2A ayat 2 dalam aturan tersebut.

Di sektor eksekusi, tugas berat menanti PT Hutama Karya (Persero) selaku ujung tombak pengerjaan sekaligus pengelola operasional JTTS.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memiliki misi besar merajut jalur logistik dari Gerbang Tol Bakauheni di ujung selatan Lampung, terus melaju membelah pulau, hingga tembus ke Serambi Mekkah.

Berdasarkan data terbaru dari Hutama Karya, pekerjaan rumah yang harus segera dikebut masih menyisakan jalan sepanjang 1.618 km.

Sisa lintasan tidak sekadar angka, melainkan rangkaian ruas vital yang dinilai mampu mendongkrak denyut ekonomi daerah, memangkas biaya distribusi, serta mengurai titik-titik kemacetan parah di Jalur Lintas Sumatera.

Untuk mengejar target penyelesaian di era pemerintahan Prabowo, deretan tol yang berstatus PSN ini akan digarap secara paralel.

Beberapa titik yang menjadi fokus utama di antaranya adalah penyelesaian Tol Betung–Tempino–Jambi yang mengkoneksikan Sumatera Selatan dan Jambi.

Bergerak lebih ke utara, jalur logistik Riau dan Sumatera Barat ikut dipacu lewat ruas Pekanbaru–Bangkinang–Payakumbuh–Bukittinggi.

Sementara di Sumatera Utara, konektivitas pariwisata dan industri diperkuat melalui penyelesaian Tol Tebing Tinggi–Pematang Siantar hingga Sibolga, bersinergi dengan percepatan di lintasan Sigli–Banda Aceh.

Sejauh ini, masyarakat sebenarnya telah merasakan dampak masif dari ruas JTTS yang sudah beroperasi.

Perjalanan darat yang bermula dari Lampung, misalnya, kini jauh lebih efisien berkat rampungnya Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (140 km) dan Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (189 km) yang langsung menembus Palembang.

Efisiensi serupa juga dirasakan masyarakat lewat belasan ruas lainnya di Sumsel, Riau, Sumatera Utara, dan Aceh yang sudah lebih dulu dibuka untuk publik.