Menu
Precision, Actual & Factual

Proyek Rp 14,5 M untuk Eks Dewan Kota Bandar Lampung Wahyu Lesmono di Kasus Korupsi Lampung Selatan

  • Bagikan
Mengenakan kemeja putih, Wahyu Lesmono duduk sebagai saksi di PN Tipikor Tanjungkarang sembari mengenakan sepatu hitam bermerk LV. Foto: Ricardo Hutabarat

KIRKA.CO – Jaksa sebagai Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiq Ibnugroho terlibat dialog dengan eks Anggota DPRD Kota Bandar Lampung Wahyu Lesmono di PN Tipikor Tanjungkarang, Rabu, 7 April 2021.

Saat itu Wahyu Lesmono duduk di hadapan majelis hakim untuk diperiksa sebagai saksi atas persidangan kasus korupsi hasil pengembangan KPK dari perkara eks Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan, dan berkaitan dengan fee proyek pada Dinas PU-PR Lampung Selatan.

Wahyu yang juga politisi dari PAN itu menjadi saksi untuk 2 orang terdakwa yang dulunya pejabat pada Dinas PU-PR Lampung Selatan: Hermansyah Hamidi dan Syahroni.

Dalam persidangan, Wahyu Lesmono mengaku kepada jaksa KPK Taufiq Ibnugroho bahwa ia berhasil mendapat paket proyek di Dinas PU-PR Lampung Selatan sebanyak 20 paket pada tahun 2017 dan 2018.

Pada tahun tersebut, Wahyu Lesmono masih menjadi anggota DPRD Kota Bandar Lampung. Ia dulunya dilantik sebagai legislator untuk periode 2014-2019.

Saat itu Wahyu Lesmono mengerjakan proyek menggunakan perusahaan seseorang yang diakuinya sebagai saudaranya.

Nama saudaranya itu disebutnya Sona. Nama lengkapnya Jabasona. Kepada jaksa KPK, Wahyu mengaku lupa nama perusahaan saudaranya itu.

“CV Sakura bukan? Nama perusahaan dari saudaranya saudara saksi itu?” tanya Taufiq. Mendapat pertanyaan tersebut, Wahyu membenarkannya.

Diketahui, Wahyu Lesmono mendapat paket proyek pada tahun 2017 melalui Hermansyah Hamidi, yang saat itu adalah Kadis PU-PR Lampung Selatan.

Wahyu diketahui bertandang terlebih dulu ke kediaman Hermansyah Hamidi untuk membahas dan kemudian mendapatkan proyek.

Kala itu Wahyu mendapat paket proyek senilai Rp 7 miliar dan harus menyetorkan fee sebesar 20 persen.

Uang sebesar Rp 1,4 miliar berdasarkan persentase nilai paket proyek yang diterima kemudian disetorkan kepada staf khusus Zainudin Hasan bernama Agus Bhakti Nugroho di kediaman Agus Bhakti Nugroho.

Selanjutnya, Wahyu Lesmono mendapat proyek pada tahun 2018 usai Anjar Asmara seorang dengan jabatan sebagai Kadis PU-PR menggantikan Hermansyah Hamidi bertandang ke Kantor DPD PAN Kota Bandar Lampung.

Menurut Wahyu Lesmono, Anjar kala itu bertandang ke kantornya dan membahas paket proyek. Kala itu, Wahyu Lesmono harus menyetorkan fee sebesar 10 persen.

Setelah dialog tersebut, terdakwa Syahroni menghubungi Wahyu Lesmono untuk menindaklanjuti paket proyek senilai Rp 7,5 miliar yang dibicarakan dengan Anjar Asmara.

Dari komunikasi itu, Wahyu Lesmono dan Syahroni membuat kesepakatan untuk bertemu di Hotel Aston, di Kota Bandar Lampung.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan