PDRB Lampung Utara Naik, Hamartoni Mulai Petik Hasil

PDRB Lampung Utara Naik, Hamartoni Mulai Petik Hasil
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti pentingnya hilirisasi pertanian untuk menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi Lampung Utara. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

KirkaKabupaten Lampung Utara mencatatkan tren positif pemulihan ekonomi daerah.

Di bawah kepemimpinan Hamartoni Ahadis, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) wilayah berjuluk Bumi Ragem Tunas Lampung meroket ke level 5,12 persen pada 2025 dari posisi sebelumnya yang tertahan pada angka 4,10 persen.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai lonjakan angka statistik merupakan sinyal kuat berputarnya roda perekonomian secara lebih cepat.

Secara perlahan, kabupaten tertua di Lampung sedang bergerak meninggalkan status daerah tertinggal menuju titik pertumbuhan baru.

“Merujuk pada teori growth pole dari François Perroux, pembangunan daerah memang tidak selalu merata di awal.

“Pergerakannya bermula dari titik-titik penggerak ekonomi yang kemudian memicu efek berganda atau multiplier effect,” ujar Mahendra, Minggu, 31 Mei 2026.

Pemerintah Kabupaten Lampung Utara saat sekarang tengah berupaya keras membangun momentum pertumbuhan.

Sektor pertanian, UMKM, investasi, hingga geliat ekonomi desa dioptimalkan sebagai motor penggerak utama.

Angka Kemiskinan

Dampak pergerakan roda ekonomi rupanya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Data terbaru membeberkan tingkat kemiskinan berhasil ditekan dari 16,92 persen menjadi 15,78 persen, berbarengan dengan menyusutnya angka pengangguran.

Menurut Mahendra, indikator penurunan kemiskinan sangat krusial dalam mengukur keberhasilan program pemerintah daerah.

“Dalam teori pembangunan inklusif, pertumbuhan ekonomi baru bisa dianggap sukses apabila mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat bawah, bukan sekadar memperbesar ukuran PDRB di atas kertas,” tegasnya.

Capaian positif merupakan hasil dari fokus kebijakan Hamartoni Ahadis yang konsisten mengawal visi “Lampung Utara Bermartabat, Maju, Aman, dan Sejahtera”.

Bukti nyatanya terlihat dari masifnya pemberdayaan koperasi serta penguatan sektor produktif pada tingkat akar rumput.

Lebih jauh, Mahendra menyoroti arah kebijakan tingkat kabupaten sangat selaras dengan gagasan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.

Sang gubernur sebelumnya telah menekankan keharusan membangun fondasi kemajuan ekonomi daerah dari kawasan pedesaan.

“Ekonomi Lampung ke depan bukan desa yang bergantung kota, tapi sebaliknya, kota yang bergantung ke desa,” ungkap Mirza dalam sebuah kesempatan.

Ia juga mewanti-wanti agar kekayaan komoditas lokal wajib memberikan nilai tambah bagi warga setempat.

“Kita kaya komoditas, tapi uangnya banyak keluar karena ketiadaan nilai tambah,” tambahnya.

Hilirisasi

Walaupun indikator makro menunjukkan perbaikan signifikan, Mahendra mengingatkan tantangan Pemkab ke depan justru makin berat.

Pekerjaan rumah terbesar Hamartoni menyangkut kepastian masuknya aliran investasi yang menyasar hilirisasi hasil pertanian maupun industri pengolahan.

“Ekonomi daerah tidak boleh terus-terusan mengandalkan penjualan komoditas mentah.

“Kehadiran industri pengolahan adalah keharusan agar rantai pasok ekonomi tidak putus,” kata Mahendra.

Ia meyakini, apabila Pemkab konsisten menjaga tren pertumbuhan di atas 5 persen sembari menguatkan fondasi ekonomi desa, Lampung Utara akan segera terbebas dari jerat stagnasi yang selama bertahun-tahun membelenggu potensinya.