KIRKA – Hampir satu bulan sudah buronan Kejaksaan paling dicari, Satono, menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelarian, yang hingga kini masih juga menimbulkan sebuah misteri dimanakah sebenarnya selama ini ia bersembunyi, dan berikut hal yang mulai terungkap saat pemakamannya dilaksanakan.
KIRKA.CO coba mengumpulkan beberapa dokumentasi saat mantan Bupati Kabupaten Lampung Timur tersebut dikebumikan di kampung halaman, dengan harapan mendapat sedikit informasi kemana selama ini ia bersembunyi dari kejaran Aparat Penegak Hukum yang memburunya sepanjang sembilan tahun belakangan.
Kesimpang siuran dimana sebenarnya lokasi Satono tinggal dan wafat, sudah terlihat dari surat kematian bernomor 140/279/04.2001/2021, yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Samsumar selaku Kepala Desa Pekalongan di 12 Juli 2021 lalu.

Dalam surat keterangan kematian yang turut di cap dengan stempel biru bertuliskan Desa Pekalongan tersebut, tidak ada keterangan lokasi terpidana Satono meninggal dunia, serta tidak tercantumnya sebab musabab penyakit yang membuat sang Dalang tersebut wafat diusianya yang ke 68 tahun.
Adapun poin informasi yang disematkan pada surat itu, hanyalah nama, umur, kewarganegaraan, agama, hari dan tanggal meninggal, keterangan waktu meninggal, serta alamat terakhir almarhum yang diisi dengan keterangan “Tidak Diketahui”.
Dari informasi yang terlanjur beredar luas di masyarakat, Satono dikabarkan meninggal dunia di Jakarta, di kediaman anak laki-laki tertuanya bernama Risano Awaluddin Wiryawan, pukul 5 WIB saat hari menjelang pagi.
Namun kabar yang tersebar itu terlihat berbanding terbalik dengan pernyataan dari Kakak Kandung Satono bernama Rahmad Palal, yang disampaikannya kepada wartawan RadarTV Lampung, dalam sesi wawancaranya di hari pemakaman adiknya tersebut.

Yang beritanya sendiri telah tayang dan diupload pada chanel youtube RadarTV Lampung, empat minggu yang lalu dengan berita berjudul “Pelarian 10 Tahun Eks Bupati Lampung Timur Satono Berakhir”.
“Dapat kabar tadi pagi jam 5, ya sudah saya suruh diurusi sama anak-anaknya, saya bilang bawa ke sini, ditungggu le,” jelasnya.
“Meninggal di Jawa pak?” tanya Wartawan dalam wawancaranya.
“Hah…Bandar Lampung lah, ke Jawanya kapan, kalau ke Jawa kok pagi bisa sampai itu darimana,” tegas Rahmad Palal.
Keterangan dari sang kakak tentang lokasi wafatnya terpidana Satono pun diperkuat dari dokumentasi yang mengabadikan gambar satu unit mobil pribadi pengangkut Jenazah Mantan Bupati itu, yang berjenis mini bus bermerk Mitsubishi Xpander Abu-abu metalik, dengan nomor polisi BE 1692 YL.

Dimana huruf BE di awal adalah identitas nomor plat kendaraan yang berdomisili di Provinsi Lampung, dan dua huruf YL di belakang merupakan kode kendaraan dari wilayah Kota Bandar Lampung.
Dan sebuah hal yang hampir mustahil jika mendiang Satono dibawa dalam keadaan meninggal dunia dari luar Pulau Sumatera menggunakan kendaraan pribadi, tanpa ada keterangan penyebab kematian dan melewati pemeriksaan di pelabuhan dengan mudah, mengingat saat ini tengah masifnya penyebaran Covid-19, terutama di Provinsi Lampung.
Hingga dikebumikannya Satono ke liang lahat, masyarakat pun masih bertanya dan mempersoalkan misteri tak terciumnya keberadaan mantan Bupati Lampung Timur tersebut, Jika selama ini yang bersangkutan memang ternyata tidak kemana-mana dan hanya bersembunyi di wilayah Bandar Lampung.
Dan siapakah sebenarnya pihak yang berusaha menyembunyikan serta menutupi lokasi bernaungnya buronan korupsi paling dicari tersebut, yang mungkin saja memang memiliki kepentingan tersendiri dalam peristiwa pelarian Satono.
Masih menjadi tanda tanya besar dan tengah didalami oleh pihak Kejaksaan Tinggi Lampung, untuk menguak siapakah sebenarnya tokoh utama dari tak tertangkapnya Satono hingga tidak tersentuh sama sekali selama hampir satu dekade.






