Lampung, Lumbung Sukun Terbesar di Luar Jawa yang Perhatiannya Masih Minim

Lampung, Lumbung Sukun Terbesar di Luar Jawa yang Perhatiannya Masih Minim
Meski produksi sukun Lampung tembus 14 ribu ton dan menduduki peringkat empat nasional, pemetaan sentra wilayahnya masih nihil. Foto: Arsip BPS/Kirka/I

Kirka – Provinsi Lampung diam-diam menyimpan potensi komoditas pangan yang luar biasa.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2024, Lampung sukses bertengger di peringkat keempat nasional sebagai daerah penghasil buah sukun terbanyak di Indonesia.

Meski menyandang status sebagai Raja Sukun dari Sumatera dan penyumbang terbesar di luar Pulau Jawa, potensi komoditas ini dinilai masih minim perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama.

Menurutnya, angka produksi sukun di Sang Bumi Ruwa Jurai sangat fantastis, namun ironisnya luput dari fokus pengembangan pemerintah.

“Data BPS menunjukkan total produksi sukun di Lampung mencapai 144.417,62 kuintal atau sekitar 14.441 ton pada tahun 2024.

“Dengan angka tersebut, Lampung menjadi kontributor utama di luar Jawa, bahkan melampaui Provinsi Sulawesi Selatan dan DI Yogyakarta,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 3 Maret 2026.

Data Kabupaten/Kota Blank

Kendati menduduki peringkat empat nasional, Mahendra menyoroti kelemahan mendasar dalam sistem pendataan di daerah.

Ia menyebut, rincian data produksi sukun hingga level kabupaten/kota di Provinsi Lampung saat ini tidak tersedia.

Ketiadaan data yang spesifik ini membuat pemerintah daerah kesulitan melakukan pembinaan.

Peta kekuatan sentra komoditas sukun menjadi kabur dan dibiarkan tumbuh secara alami tanpa intervensi teknologi maupun bisnis.

“Ironis sekali, kita ini lumbung terbesar di luar Jawa, tapi data produksi di level kabupaten atau kota itu tidak ada.

“Akibatnya jelas, potensi besar yang ada di depan mata ini kurang tergarap dengan optimal,” tegas Mahendra.

Ia memberi contoh, salah satu indikasi kuat keberadaan sentra penghasil sukun justru terpotret dari kegiatan mandiri masyarakat.

Misalnya, kegiatan pelatihan olahan sukun yang baru-baru ini terlaksana di Desa Simbaringin, Kabupaten Lampung Selatan.

“Dari indikasi pelatihan di Desa Simbaringin itu saja, kita bisa melihat bahwa Lampung Selatan mungkin menjadi salah satu sentra utamanya.

“Tapi karena tidak ada pemetaan resmi, hal-hal seperti ini lewat begitu saja dari radar pemerintah,” jelasnya.

Pemetaan Kawasan

Untuk memajukan sektor pertanian dan pangan ini, Mahendra mendesak pemerintah daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk segera turun ke lapangan dan melakukan pemetaan sentra produksi sukun yang komprehensif.

Menurutnya, pemetaan adalah kunci utama agar program bantuan, pembinaan petani, hingga hilirisasi produk olahan sukun bisa berjalan efektif.

“Pemerintah daerah perlu segera memetakan sentra produksi. Dengan basis data yang akurat, intervensi kebijakan dan pengembangan kawasan bisa dilakukan tepat sasaran.

“Jika diseriusi, Lampung sangat berpeluang melompat menjadi produsen sukun nomor satu di Indonesia,” tutup Mahendra.

Diketahui, komoditas sukun kini mulai dilirik secara global sebagai alternatif pangan masa depan (karbohidrat pengganti beras) yang tahan terhadap perubahan iklim.

Bila dikelola dengan orientasi industri, sukun berpotensi mendongkrak perekonomian petani Lampung secara signifikan.