Kirka – Penantian panjang masyarakat Lampung akan akses penerbangan internasional akhirnya terjawab.
Maskapai TransNusa dipastikan melakukan penerbangan perdana (inaugural flight) rute Bandara Radin Inten II (TKG) menuju Kuala Lumpur (KUL) pada 12 Februari mendatang, pukul 11.00 WIB.
Kabar tersebut sontak memicu respons positif publik yang selama ini terpaksa memutar via Jakarta atau Batam untuk menuju Negeri Jiran.
Namun, di tengah ingar-bingar seremonial tersebut, Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, melemparkan sorotan mengenai kesiapan daerah menyambut keterbukaan ini.
Mahendra menilai, rute baru itu ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi menawarkan akselerasi ekonomi, namun di sisi lain menyimpan potensi kerugian jika tidak dikelola dengan strategi matang.
“Euforia publik sangat beralasan, ini memangkas biaya dan waktu. Tapi kita harus lihat gambaran besarnya.
“Estimasi lonjakan wisatawan 20 hingga 30 persen itu bukan angka kecil. Jika ini dikelola benar, sektor agro dan pariwisata kita akan mendapat injeksi segar,” ungkap Mahendra, Rabu, 11 Februari 2026.
Infrastruktur
Mahendra tidak menampik potensi multiplier effect dari okupansi hotel hingga omzet UMKM yang bakal terdongkrak.
Namun, ia mengingatkan adanya pekerjaan rumah krusial yang belum tuntas, infrastruktur.
Kapasitas terminal Bandara Radin Inten II dan akses jalan yang kerap menjadi titik kemacetan dinilai belum ideal untuk standar internasional.
“Jangan sampai ledakan ekonomi ini bocor. Kalau tamu datang tapi fasilitas bandara sesak dan jalanan macet, mereka kapok.
“Ujung-ujungnya, Lampung bukannya untung, malah cuma jadi pasar empuk bagi produk impor Malaysia yang mematikan UMKM lokal,” tegasnya.
Brain Drain
Analisis Mahendra juga menyentuh aspek sosiologis.
Konektivitas langsung membuka lebar gerbang tenaga kerja dan akses kesehatan.
Namun, risiko arus balik budaya dan migrasi sumber daya manusia (SDM) tak bisa dipandang sebelah mata.
Ia mengkhawatirkan fenomena brain drain, di mana talenta-talenta terbaik Lampung justru memilih menetap di Kuala Lumpur karena tawaran yang lebih menggiurkan, meninggalkan daerahnya sendiri kekurangan SDM berkualitas.
“Anak muda kita berpotensi terpapar gaya hidup urban tanpa dibekali skill yang relevan. Ini bisa memicu kesenjangan sosial baru yang serius,” imbuhnya.
Apresiasi dan Ultimatum
Kendati melontarkan kritik konstruktif, Mahendra tetap mengapresiasi langkah taktis Pemprov Lampung, Angkasa Pura II, dan TransNusa yang berani membuka rute ini di masa pemulihan pasca pandemi.
Menurutnya, itu investasi masa depan yang patut didukung.
Namun, ia mendesak pemerintah daerah agar tidak terlena.
Momentum harus dikawal dengan kebijakan inklusif, perbaikan fasilitas fisik, serta pelatihan vokasi bagi tenaga kerja yang ingin mengadu nasib ke luar negeri.
“Lampung ada di persimpangan vital. Pemerintah harus pastikan kita adalah pemain utama, bukan sekadar penonton atau tempat transit.
“Ini peluang emas, konyol kalau sampai disia-siakan,” pungkas Mahendra.






