Masyarakat Terpolarisasi di Pilpres 2019
Masyarakat mulai terpolarisasi di Pilpres 2019 saat hanya ada dua pasangan calon presiden yang berkontestasi.
Berikut data KPU RI terkait pencalonan dari Pilpres 2004 hingga Pilpres 2019.
Pilpres 2004 pada putaran pertama, 5 Juli, diikuti lima pasangan calon yaitu Wiranto-Salahuddin Wahid (22,15), Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi (26,61), Amien Rais-Siswono Yudo Husodo (14,66), SBY-Jusuf Kalla (33,57), Hamzah Haz-Agum Gumelar (3,01) persen suara.
Karena tidak satu pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, maka diselenggarakan pilpres putaran kedua, 20 September, yang diikuti pasangan SBY-Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.
Dan dimenangkan oleh SBY-Jusuf Kalla dengan perolehan suara 60,62 persen sementara Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi sebanyak 39,38 persen.
Pilpres 2009 pada 8 Juli diikuti tiga pasangan calon, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (26,79), SBY-Boediono (60,80), Jusuf Kalla-Wiranto (12,41) persen suara.
Pasangan SBY-Boediono ditetapkan oleh KPU RI sebagai pemenang dalam satu putaran langsung.
Pilpres 2014 pada 9 Juli diikuti dua pasangan calon yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Koalisi Merah Putih meraih 46,85 persen suara dan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan Koalisi Indonesia Hebat meraih 53,15 persen suara.
Kemudian Pilpres 2019 pada 17 April juga diikuti dua pasangan calon, Joko Widodo-Ma’ruf Amin(55,50) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih (44,50) persen suara.
Joko Widodo-Ma’ruf Amin diusung Koalisi Indonesia Kerja gabungan dari PDIP, Golkar, PKB, NasDem, PPP, Hanura, Perindo, PKPI, dan PSI.
Sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didukung oleh partai oposisi dari Koalisi Adil Makmur yang terdiri dari Gerindra, PKS, Demokrat, PAN, dan Partai Berkarya.
Baca Juga : Ahmad Muzani Menjamu Cak Imin di Lampung
Dampak Pilpres 2019 hingga saat ini masih bisa dirasakan dengan terpolarisasinya masyarakat ke dalam dua kutub.
Pembelahan antarkubu dari kedua pasangan calon dikenal dengan sebutan Cebong dan Kampret.
Meskipun Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah bergabung ke dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
Kehadiran poros Koalisi Indonesia Bersatu diharapkan bisa meminimalkan polarisasi di masyarakat.






