Kirka – Tradisi turun ke lapangan menyapa warga perlahan identik dengan sosok Joko Widodo.
Kebiasaan merawat akar rumput rupanya menular kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Meski wujudnya serupa, motif manuver bapak dan anak diyakini punya arah yang jauh berbeda.
Eksponen 98, Mahendra Utama, membedah fenomena yang tengah menyita perhatian publik.
Ia memandang langkah mantan presiden ketujuh RI turun gunung lebih condong pada upaya mengkonsolidasikan mesin politik.
“Kalau kita amati, di balik kesamaan bentuk blusukannya, tersimpan perbedaan tujuan yang sangat mendasar.
“Safari politik Pak Jokowi kental dengan nuansa personal untuk membangun bridging position atau posisi jembatan, agar Gibran punya modal politik cukup menuju 2029,” terang Mahendra, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Pandangan Mahendra sejalan dengan amatan sejumlah pakar.
Pengamat politik Adi Prayitno misalnya, menilai manuver mantan Wali Kota Solo dirancang demi mengamankan basis suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya bahkan menganggap ketokohan Gibran maupun Kaesang Pangarep belum cukup tangguh sebagai simbol tunggal, sehingga memaksa sang ayah turun tangan langsung.
Menilik kiprah sang Wakil Presiden, Mahendra menangkap orientasi yang bertolak belakang.
Ia menegaskan pergerakan Gibran sejak resmi dilantik pada Oktober 2024 murni berbalut urusan pemerintahan.
“Beda dengan ayahnya, blusukan Gibran jelas berorientasi pada kinerja. Bayangkan saja, sejak dilantik sudah mencatatkan 321 kunjungan kerja.
“Catatan lawatan menyalip rekor Jokowi dulu yang berada di angka 275 kunjungan pada periode awal pemerintahannya,” beber Mahendra.
Rangkaian lawatan didominasi eksekusi program. Mulai dari pembagian sembako, distribusi alat tulis, peninjauan Makan Bergizi Gratis (MBG), sampai menyerap langsung keluhan warga.
Mengutip kacamata pengamat Hendri Satrio, manuver masif Gibran merupakan adopsi cetak biru bapaknya guna merawat basis massa sekaligus membangun kedekatan emosional.
Walau memegang peran berbeda, kritik tak urung membayangi aksi dua tokoh.
Sebagian kalangan mencap rutinitas sapa warga acap kali berakhir sekadar seremoni tanpa solusi nyata.
Pengamat Erizal bahkan terang-terangan menyangsikan tuah turun gunung Jokowi.
Ia menilai aksi mantan kepala negara tidak memberi efek elektoral berarti bagi PSI maupun sang putra sulung.
Menepis rentetan keraguan publik, Mahendra meyakini Gibran menjadikan tradisi lama sebagai strategi komunikasi yang efektif demi membuktikan kualitas kerja di struktur pemerintahan.
Ia membedakan posisi keduanya, Jokowi bergerak sebagai mantan presiden penggalang kekuatan dinasti, sementara sang putra bekerja di ranah eksekutif untuk fungsi pengawasan program.
“Kesimpulannya jelas, Jokowi memakai blusukan sebagai instrumen politik dan konsolidasi kekuatan, sedangkan Gibran menggunakannya untuk pembuktian kinerja eksekutif.
“Saya meyakini Mas Wapres mampu menjadi versi upgrade Jokowi,” tegas Mahendra.






