Kirka – Lonjakan harga kebutuhan pokok selepas Idulfitri biasanya menjadi momok menakutkan bagi masyarakat bawah.
Namun, Provinsi Lampung justru mematahkan kebiasaan tersebut dengan menorehkan prestasi ekonomi membanggakan.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, tingkat inflasi tahunan daerah berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai pada Maret 2026 hanya menyentuh angka 1,16 persen.
Capaian tersebut jauh menukik meninggalkan rata-rata nasional pada level 3,48 persen, sekaligus menobatkan Lampung sebagai wilayah dengan tingkat inflasi paling rendah se-Indonesia.
Bahkan, secara bulanan, angkanya merosot ke level 0,15 persen.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, merespons positif rilis data BPS tersebut.
Menurutnya, rekor inflasi rendah bukanlah sekadar deretan angka statistik usang, melainkan wujud nyata perlindungan terhadap daya beli warga kelas menengah ke bawah.
“Di saat daerah lain kewalahan menahan harga, Lampung tampil beda. Bagi masyarakat kecil, kestabilan harga kebutuhan pokok adalah berkah luar biasa.
“Kebijakan pemerintah daerah terbukti berpihak pada nasib rakyat kebanyakan,” tutur Mahendra, Jumat, 10 April 2026.
Banjir Panen dan Manuver Pemerintah
Berdasarkan catatan statistik, kelompok makanan dan minuman seringkali memicu gejolak harga pasar.
Beruntung, limpahan panen dari sentra pertanian seperti Kabupaten Pesawaran dan Lampung Tengah sukses membanjiri pasar tradisional.
Alhasil, komoditas langganan penyumbang inflasi semacam cabai merah serta tomat justru mengalami penurunan harga cukup tajam.
Namun, Mahendra menilai melimpahnya stok sayur-mayur bukan satu-satunya pahlawan.
Ia menggarisbawahi peran besar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bergerak serentak bersama Pemerintah Provinsi dan Bank Indonesia (BI).
Berbagai langkah terukur langsung dieksekusi di lapangan.
Mulai dari pemberian subsidi biaya transportasi, gelaran pasar murah secara masif, hingga pemantauan suplai barang setiap harinya pasca-Lebaran.
Manuver cepat itulah yang sukses memadamkan potensi lonjakan harga.
Pelaku UMKM
Berkat intervensi jitu pemerintah daerah, roda ekonomi akar rumput terus berputar kencang.
Pedagang sayur, perajin tahu-tempe, serta pelaku usaha mikro tidak perlu pusing memikirkan biaya produksi yang mendadak membengkak.
Di sisi lain, pembeli tetap meramaikan lapak dagangan karena dompet mereka tidak lekas terkuras.
Secara teori ekonomi yang disederhanakan, Mahendra menyebut situasi tersebut sejalan dengan skema kerja Bank Indonesia.
Terkendalinya peredaran uang yang diimbangi oleh melimpahnya ketersediaan barang secara otomatis mencegah jatuhnya daya beli masyarakat.
“Kondisi makro ekonomi daerah ikut kokoh. Konsumsi rumah tangga aman, investasi lebih gampang diprediksi.
“Lampung sekarang pantas dijadikan percontohan nasional dalam urusan mengendalikan harga pasar,” imbuh Mahendra.
Pantang Terbuai Euforia
Meskipun panen apresiasi, Mahendra mengingatkan semua pihak agar tidak cepat berpuas diri.
Ancaman cuaca ekstrem penentu gagal panen, naik-turunnya harga energi dunia, sampai wacana penyesuaian tarif dari pemerintah pusat masih terus mengintai sepanjang sisa tahun 2026.
Ia secara khusus memberikan acungan jempol kepada petani, distributor, pemerintah daerah, petugas BPS, dan BI yang telah memeras keringat menjaga stabilitas pasokan harian.
“Tantangan terberat ke depan adalah mempertahankan konsistensi.
“Jika pemerintah daerah di seluruh tingkatan terus serius mengurus pasokan pangan, pertumbuhan ekonomi yang merata bukan sekadar angan-angan kosong.
“Mari kita jaga prestasi membanggakan yang sudah diraih,” pungkasnya.






