Kirka – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah rupanya membawa dampak langsung hingga ke dapur para perajin tahu dan tempe di Provinsi Lampung.
Bukannya pusing memikirkan ketersediaan kedelai yang justru sedang stabil, para pelaku usaha kecil menengah tersebut kini menjerit lantaran biaya kemasan plastik melambung tinggi di pasaran.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah fenomena anomali tersebut.
Ia menyebutkan, stok bahan baku utama sebetulnya amat melimpah.
Di gudang distributor besar seperti PT Budi Andalan Group saja, cadangan kedelai mencapai 500 ton dengan harga tebus Rp10.000 per kilogram, jauh di bawah batas acuan pemerintah.
“Penyebab utamanya bermuara pada cost push inflation atau inflasi dorongan biaya,” ujar Mahendra, Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, eskalasi konflik global memicu hambatan distribusi minyak dunia yang melintasi Selat Hormuz.
Buntutnya, harga minyak sempat menembus angka US$110 per barel.
Kondisi tersebut otomatis mencekik pasokan nafta sebagai bahan dasar utama pembuat plastik.
Pendapat Mahendra sejalan dengan analisis ekonomi dari M. Zimmi Skil serta Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengenai tekanan berat pada industri kemasan nasional.
Murah dan Bebas Penyakit
Menyikapi gejolak harga pengemas sintetik, imbauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lampung agar perajin kembali menggunakan daun pisang dinilai sebagai langkah jitu.
Mahendra menegaskan, anjuran pemerintah daerah itu bukan sekadar mengulang romantisme masa lalu.
Dari kacamata ekonomi riil, daun pisang harganya sangat murah serta amat mudah didapatkan, mengingat Lampung merupakan salah satu lumbung agraris Nusantara.
Lebih jauh lagi, pembungkus alami ini membawa dampak positif luar biasa bagi kesehatan konsumen maupun kelestarian alam.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerap mengingatkan bahaya paparan bahan kimia Bisphenol A (BPA) pada wadah plastik yang berisiko memicu penyakit kronis.
Sebaliknya, daun pisang menjamin keamanan pangan serta seratus persen dapat terurai utuh oleh tanah (biodegradable) tanpa meninggalkan jejak limbah beracun.
Butuh Inovasi
Walau menawarkan segudang manfaat, sekadar memberikan anjuran lisan jelas belum cukup.
Mahendra menyoroti kendala pada rantai pasok daun pisang yang pergerakannya masih mengandalkan cara tradisional.
Ia mengambil contoh kasus di Cimahi, Jawa Barat, ketika perajin justru mengeluhkan membengkaknya beban operasional saat mencoba beralih ke pembungkus organik lantaran prosesnya memakan waktu lama.
Oleh sebab itu, ia mendorong adanya pendampingan nyata lewat inovasi teknologi tepat guna dari pihak terkait.
“Pemerintah perlu memikirkan pengadaan alat atau mesin pemroses daun pisang skala industri rumahan.
“Tujuannya supaya peralihan pengemas berjalan mulus, menghemat tenaga perajin, sekaligus menjadikan produk olahan kedelai kebanggaan Lampung sebagai pionir terdepan dalam pergerakan ekonomi hijau,” tutupnya.






