Menu
Precision, Actual & Factual

BEM UNNES Sebut Ketua DPR Puan Maharani sebagai Queen of Ghosting, Arteria Dahlan Angkat Bicara

  • Bagikan
Kirka.co
Anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan. Foto Suara.com/Net

KIRKA.CO – BEM KM Unnes menjuluki Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai ‘King of Silent’. BEM Unnes menilai Ma’ruf seharusnya mengisi kekosongan peran yang tak bisa dijalankan oleh Presiden Joko Widodo saat masa pandemi.

Tak hanya Ma’ruf, BEM Unnes juga memberikan julukan bagi Ketua DPR Puan Maharani sebagai ‘Queen of Ghosting’. Mereka menilai pelbagai produk legislasi yang dihasilkan di tengah pandemi tidak berparadigma kerakyatan dan tidak berpihak pada kalangan rentan.

“Contohnya UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker dan seterusnya, serta tidak kunjung disahkannya RUU PKS yang sebetulnya cukup mendesak dan dibutuhkan pengesahannya,” ungkap BEM KM Unnes.

Melalui pesan singkat Arteria Dahlan angkat bicara atas foto yang diunggah di akun Instagram resmi BEM Unnes @bemkmunnes yang dikutip Rabu 7 Juli 2021. Seperti dilansir CNNIndonesia.com yang telah mendapat izin kutip dari BEM Unnes.

“Ya jujur saya sangat sedih sekaligus prihatin, stigma yang dengan mudahnya dilontarkan oleh yang namanya “mahasiswa” khususnya Ibu Ketua DPR dikatakan sedemikian,” ujar Arteria.

“Saya menanyakan paham gak sih apa yang disampaikan? Kok dangkal sekali ya, hanya dengan mendasarkan pada beberapa fakta atau bahkan kepingan suatu fakta yang tidak utuh, hanya dengan mendasarkan prasangka tanpa terlebih dahulu melakukan penelitian, kajian untuk kemudian diuji publik tiba-tiba melakukan kesimpulan seperti itu, yang bahkan cenderung menista, memfitnah dan menyerang kehormatan seseorang, apalagi orang tersebut Kepala Lembaga Tinggi Negara dan Kepala Lembaga kepresidenan,” sindirnya.

“Saya dulu pernah mahasiswa, jaman saya dulu untuk kita bersikap (belum turun ke jalan) harus melalui rangkaian diskusi yang melibatkan kegiatan riset, kajian dan uji publik. Ga seperti sekarang valuenya jauh berbeda, apalagi berlindung dibalik kata ‘mengkritik’, padahal sudah patut diduga itu bukan kritik tapi ada indikasi sengaja menista,” lanjut Anggota Komisi III DPR.

“Saya pertanyakan BEM KM Unnes kalian hidup dimana? Apa ada baca berita koran, media sosial dan lain-lain. Apa ndak terbiasa menggunakan akal sehat sedikitlah sebelum melontarkan hal-hal yang demikian? Dangkal sekali logika berpikirnya masa hanya karena RUU PKS yang tak kunjung disahkan, Ibu Ketua DPR dinilai tidak berparadigma kerakyatan dan tidak berpihak pada kalangan rentan,” tandasnya geram.

Kalian mahasiswa, harusnya tahu betul arti “maha siswa”, tahu bersikap minimal memiliki intelektual dan mendasarkan pendapatnya pada ilmu pengetahuan dan akal pikirnya. Kan malu, kok disalahkan Ibu Ketua DPR, harusnya kalian tahu, dalam membentuk UU itu tidak hanya tanggungjawab DPR, karena harus melibatkan persetujuan pemerintah. Makanya belajar dulu ya gak usah sampai pinter deh, tapi paham aturan hukum sudah cukup sebelum komentar. Kalian pantau dong kerja-kerja legislasi di DPR kan sudah live video streaming agar tidak gagal paham,” kata dia.

“Nah saya sedih nih dengernya, kalau dipersoalkan UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker kok dibahas, ya memang harus dibahas segera. Kenapa? Ya kalian harus paham prosedur pembentukan peraturan perundang- undangan. Apalagi sudah disepakati sebagai RUU prioritas untuk dibahas. Jadi belajar dulu sebelum bicara. Kan memalukan, mau terlihat smart padahal mempertontonkan kebodohannya sendiri, pakai contoh RUU PKS dan RUU PRT lagi. Harusnya kalian lihat itu di prolegnas prioritas tahun 2021dulu, banyak hal yang kalian tidak ketahui sudah kami kerjakan untuk bangsa dan negara ini tanpa sekalipun mempertontonkannya kepada publik, krn kami anggap sebagai kewajiban,” pungkas Arteria Dahlan.

  • Bagikan