Kirka – Perdebatan klasik antara upaya mengejar pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi lahan dan ancaman krisis lingkungan mungkin sudah tidak lagi relevan.
Di tengah tekanan perubahan iklim dan krisis pangan global, sistem agroforestri atau wanatani didorong menjadi solusi strategis bagi Indonesia.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menegaskan bahwa agroforestri bukan sekadar teknik menanam campur antara pohon hutan dan tanaman pertanian.
Menurutnya, sistem ini adalah filosofi pembangunan yang merajut kembali ekologi dan ekonomi.
“Jika dikelola dengan serius, bukan sekadar proyek percontohan, agroforestri memiliki kapasitas strategis untuk membangun ekosistem agroindustri yang berakar pada kearifan lokal, berkelanjutan secara lingkungan, dan tangguh secara ekonomi,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 11 Maret 2026.
Sayangnya, ia menilai visi besar ini masih sering tersendat oleh birokrasi dan cara pandang usang yang melihat hutan hanya sebagai tumpukan kayu.
“Sudah saatnya kita merevolusi cara pandang tersebut dan mulai membaca ulang peta jalan pembangunan dari desa-desa di pinggir hutan,” tambahnya.
Petani Harus Naik Kelas
Pria yang juga menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan ini menyoroti pergeseran paradigma yang sudah mulai terjadi, salah satunya melalui skema Perhutanan Sosial.
Hutan tidak lagi dipandang terpisah dari industri.
Ia mencontohkan praktik di Kabupaten Pesawaran, Lampung, di mana masyarakat mulai masuk ke fase hilirisasi.
Kemiri diolah menjadi briket cangkang dan minyak, kopi diproses dengan metode pasca panen hingga menjadi produk premium, dan pala dimanfaatkan secara menyeluruh.
“Inilah ekosistem agroindustri yang sebenarnya. Petani tidak lagi sekadar menjadi price taker yang menjual bahan mentah, tetapi naik kelas menjadi produsen barang setengah jadi atau produk jadi.
“Mereka membangun pabrik kecil di desa, menciptakan lapangan kerja, namun tetap menjaga tutupan hutan,” jelas Mahendra.
Praktik serupa juga terbukti berhasil di berbagai daerah lain.
Di Dusun Kawista, Wonosobo, sistem agroforestri multistrata memungkinkan petani memanen puluhan ton salak, sayuran, dan durian dalam satu lahan tanpa merusak ekologi.
Sementara di Desa Kayupuring, Petungkriyono, Jawa Tengah, ratusan mantan penebang liar kini bertransformasi menjadi petani Owa Coffee, yang sukses meningkatkan ekonomi sekaligus melindungi satwa endemik.
Belajar dari Kesalahan
Meski menjanjikan, Mahendra mengingatkan pentingnya kewaspadaan dengan berkaca pada rekam jejak historis pengelolaan hutan di Indonesia.
Merujuk data Eurostat antara tahun 1990 hingga 2015, Indonesia mencatatkan penurunan luas kawasan hutan terbesar kedua di G20 setelah Brasil.
“Ini ironis. Penurunan terjadi saat kita gencar mengampanyekan kelestarian alam. Ekspansi monokultur dan tambang yang tak terkendali seringkali menjadi biang keroknya.
“Di sinilah urgensi agroforestri hadir sebagai antitesis dari model ekstraktif tersebut,” tegas sosok yang juga dikenal sebagai Eksponen 98 ini.
Selain itu, kepastian hak atas lahan menjadi prasyarat mutlak.
Mengutip studi perbandingan era 1980-an antara Jepang, Thailand, dan Indonesia, Mahendra menyebutkan bahwa petani tidak akan menanam pohon jangka panjang jika lahan mereka rentan diambil alih.
Negara Harus Hadir
Terkait kebijakan, Mahendra mengapresiasi langkah kolaboratif Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Ketenagakerjaan yang mulai melihat agroforestri sebagai ekosistem bisnis dan solusi mata pencaharian berkelanjutan.
Namun, ia menekankan bahwa memberikan izin akses lahan saja tidak cukup.
“Negara harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tapi juga fasilitator dan akselerator.
“Petani butuh pendampingan teknis, kelembagaan usaha (KUPS) yang kuat, akses permodalan, dan koneksi ke pasar,” paparnya.
Ia mencontohkan kesuksesan Kelompok Tani Hutan di Nusa Tenggara Barat yang berhasil mengekspor kemiri ke Abu Dhabi berkat fasilitasi Bank Indonesia.
Hal tersebut membuktikan produk agroforestri mampu bersaing di pasar global jika ekosistemnya dibangun dengan matang.
“Agroforestri menawarkan peradaban baru. Pertumbuhan ekonomi tidak harus mengorbankan lingkungan.
“Sudah saatnya kita serius menjadikan agroforestri sebagai fondasi pembangunan Indonesia yang hijau dan berkeadilan,” tutup Mahendra.






