Kirka – Eksponen 98, Mahendra Utama, merespons dinamika penolakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terhadap Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi.
Tokoh pergerakan reformasi itu berpandangan bahwa era relawan telah usai dan perlahan bergeser ke kekuatan kepartaian baru.
“Budi Arie dan Projo bagian dari masa lalu, Kaesang dan PSI adalah masa depan politik Jokowi,” kata Mahendra, di Bandarlampung, Kamis, 27 Agustus 2026.
Mahendra menganggap rekam jejak politik merupakan cermin yang tidak bisa dibersihkan hanya bermodalkan retorika.
Dia menyebut penolakan PSI terhadap kehadiran Budi Arie bukan sebatas konflik elite biasa, melainkan sebuah pertaruhan ideologis menyangkut konsistensi.
Sebelumnya, Ketua DPP PSI, Dedek Prayudi, secara gamblang menyatakan partai berlambang mawar menolak keberadaan Budi Arie.
Alasan utamanya berkaitan dengan perbedaan pandangan mendasar tentang stabilitas pemerintahan.
Dedek merujuk pada wacana pergantian kepemimpinan negara di tengah jalan yang pernah dilontarkan pimpinan Projo beberapa waktu lampau.
“Pernyataan soal kemungkinan pergantian pemerintahan di tengah jalan adalah buah pikiran orang kurang kerjaan,” ucap Dedek.
Menyambung dinamika yang berkembang, Mahendra menyinggung teori Political Idolatry.
Konsep pemujaan politik kerap menjadikan figur publik sebagai objek, namun berpotensi ditinggalkan saat arah kepentingan mulai bergeser.
Organisasi Projo yang berdiri sejak Agustus 2013 sebagai mesin politik terbesar Jokowi, sekarang berada di persimpangan.
Ketuanya bahkan pernah melontarkan ucapan bahwa organisasinya bukan lagi singkatan dari “Pro Jokowi”, sebuah manuver yang bertolak belakang dengan sejarah pembentukannya.
Budi Arie memang sempat menyampaikan permintaan maaf atas kontroversi ucapan percepatan pemilihan umum.
Ia mengklaim gagasannya murni analisa pribadi tanpa kaitan dengan presiden.
Namun, seperti kata Sekjen Projo, Jokowi yang duduk di sampingnya saat pernyataan itu dilontarkan justru menanggapi dengan nada berbeda.
Ia menyebut wacana pergantian kepemimpinan belum relevan karena kondisi ekonomi nasional masih dalam keadaan baik.
Bagi Mahendra, fakta ketidakselarasan respons membuktikan ada jurang pemisah antara narasi rancangan Budi Arie dan realitas sesungguhnya.
Pada sisi lain, ia memandang PSI di bawah komando Kaesang Pangarep memperlihatkan kedewasaan berpolitik.
Keputusan PSI menolak menjadi tempat persinggahan petualang kekuasaan yang berwatak oportunistik menjadi penanda kuat.
Partai politik bukanlah pasar malam tempat siapapun leluasa keluar masuk sesuka hati.
“Ketika sang arsitek relawan berusaha mencari panggung baru, sejarah membuktikan masa lalu kerap menjadi beban yang tak terelakkan,” tutur Mahendra.






