WFS dan Harapan Baru Karang Taruna Lampung di Bawah Kepemimpinan Baru

WFS dan Harapan Baru Karang Taruna Lampung di Bawah Kepemimpinan Baru
Eksponen 98, Mahendra Utama meyakini Wahrul Fauzi Silalahi merupakan figur paling pas untuk memegang tongkat komando Karang Taruna Provinsi Lampung. Foto: Arsip istimewa/Kirka

Kirka – Kursi Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung segera berganti pemilik setelah satu dekade penuh berada di bawah komando Dendi Ramadhona.

Menjelang masa transisi, nama Wahrul Fauzi Silalahi (WFS) mendominasi bursa pencalonan dan digadang-gadang mampu membawa angin segar bagi gerakan pemuda di Bumi Ruwa Jurai.

Eksponen 98, Mahendra Utama, memandang kapasitas Wahrul sangat mumpuni untuk memegang tongkat komando organisasi.

Ia menilai rekam jejak pria yang akrab disapa WFS itu sangat panjang, membentang dari barisan Pramuka, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga berkiprah membela masyarakat kecil di Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Pengalaman satu periode utuh duduk di Komisi I DPRD Lampung makin mematangkan insting sosial sang legislator.

“Bagi dia, jalur politik sekadar alat untuk melanjutkan pengabdiannya semasa menjadi pengacara rakyat.

“Lewat kursi parlemen, Wahrul punya ruang leluasa mengeksekusi pelbagai kebijakan yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi masyarakat,” jelas Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 6 Agustus 2026.

Peluang politikus Partai Gerindra merengkuh posisi puncak kepemudaan rupanya makin terbuka lebar.

Data survei teranyar memotret elektabilitas Wahrul menyentuh angka 41,5 persen, jauh meninggalkan figur pesaing lainnya.

Kuatnya daya tawar WFS diamini pula oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Karang Taruna Lampung, M. Yuliardi.

Arus dukungan pengurus tingkat kabupaten dan kota perlahan mengerucut kepada satu nama demi merajut sinergi kepemudaan yang lebih kokoh ke depan.

Sebagai kawan diskusi, Mahendra membocorkan sedikit gagasan besar sang calon ketua.

Wahrul bercita-cita menjadikan Karang Taruna layaknya rahim yang melahirkan pemuda tangguh berbekal karakter dan wawasan mumpuni.

Filosofi pergerakannya mengakar pada pesan Khairunnaas anfa’uhum linnaas, sebuah tekad menjadi manusia paling bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Mental petarung Wahrul pun sudah teruji. Publik mencatat keberaniannya hijrah dari Partai NasDem ke Gerindra pada Pemilu 2024 lalu dan sukses kembali mengamankan kursi legislatif.

Langkah berisiko itu, menurut Mahendra, amat lekat dengan filosofi hidup masyarakat pesisir berbunyi Kilu-kilu mak ghega, teghidang mak serupa.

Maknanya, tiap individu memiliki jalan pengabdian dan ketegasannya masing-masing.

Tidak ada kamus mundur dalam kamus pergerakan WFS.

Keteguhannya selama ini merepresentasikan falsafah Sai wat piil pesenggiri, wat piil mak menggul. Manusia yang memegang teguh harga diri pantang menyerah sebelum bertanding.

“Sekarang saatnya dia pulang mengurus generasi muda. Kita butuh anak muda Lampung yang berkarakter, berbudaya, serta berjiwa kesatria di bawah kepemimpinannya nanti,” pungkas Mahendra.