Kirka – Keberhasilan rute penerbangan perintis dari Bandarlampung menuju Bandara M. Taufiq Kiemas di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, membawa angin segar bagi ekosistem pariwisata daerah.
Waktu tempuh jalur darat yang biasanya memakan waktu hingga enam jam, kini berhasil dipangkas drastis menjadi hanya 35 menit.
Kesuksesan efisiensi waktu ini dinilai harus menjadi momentum bagi pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub), untuk segera menjajaki pembukaan akses penerbangan langsung dari Jakarta dan Palembang.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut langkah akselerasi konektivitas udara tersebut sangat mendesak untuk mengoptimalkan potensi wisata bahari berkelas dunia yang dimiliki kawasan Pesisir Barat.
Menurutnya, tanpa infrastruktur transportasi yang memadai, daya tarik destinasi sebagus apa pun akan sulit bersaing di pasar global.
“Konektivitas udara adalah kunci utama bagi destinasi wisata minat khusus seperti Krui.
“Tanpa akses udara yang memadai, potensi sebesar apa pun akan terhambat oleh kendala geografis,” tegas Mahendra, Kamis, 11 Juni 2026.
Wisatawan dari Dua Kota Utama
Dalam kacamata ekonomi transportasi, penyediaan rute baru sangat sejalan dengan Theory of Induced Demand, di mana infrastruktur akses yang dibangun akan otomatis menciptakan pasar dan permintaan baru.
Jika penerbangan langsung dari Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta) dan Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang) terealisasi, tren kunjungan wisatawan diprediksi akan melonjak tajam sepanjang tahun 2026.
Mahendra memproyeksikan, penerbangan langsung tanpa transit dari ibu kota akan memangkas kelelahan perjalanan (travel fatigue) secara signifikan.
Dampaknya, kunjungan pelancong domestik kelas menengah atas serta komunitas peselancar ekspatriat dari Jakarta berpotensi meroket hingga 150 persen.
Sementara itu, Palembang yang berstatus sebagai hub atau pintu gerbang utama Sumatra bagian selatan, diyakini mampu menyumbang peningkatan wisatawan regional sebesar 80 persen.
Rute ini diprediksi akan menjadi favorit warga Sumatera Selatan untuk menghabiskan agenda liburan akhir pekan (weekend getaways).
Efek bagi Warga Lokal
Lebih jauh, pembukaan rute strategis pun tidak hanya sekadar mendongkrak angka kunjungan, tetapi juga memicu Tourism Multiplier Effect atau efek pengganda ekonomi di tingkat akar rumput.
Konsep yang digagas ekonom John Maynard Keynes memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan pengunjung akan berputar langsung dan menghidupi masyarakat lokal.
Mahendra menjelaskan, dengan asumsi penerbangan komersial terjadwal dari dua kota besar tersebut bisa beroperasi penuh pada pertengahan tahun ini, stimulus terhadap sektor makro maupun mikro akan sangat terasa.
Indikator positif dapat dilihat dari proyeksi tingkat penghunian kamar (TPK) perhotelan di kawasan Pantai Tanjung Setia yang diperkirakan bakal menembus angka 75 hingga 80 persen, terutama saat peak season musim berselancar tiba.
Tidak hanya pengusaha akomodasi, roda bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga dipastikan ikut berputar kencang.
Perputaran uang dari transaksi kuliner laut, penjualan kerajinan khas seperti kain sinjang mala, hingga jasa penyewaan papan selancar dan pemandu wisata, diproyeksikan tumbuh 40 persen dibandingkan pencapaian tahun lalu.
Integrasi konektivitas udara Jakarta-Krui dan Palembang-Krui diyakini menjadi strategi pamungkas yang tidak boleh dilewatkan.
Lewat langkah ini, Krui tidak sebatas mempertahankan prestisenya sebagai surga bagi para surfer internasional, melainkan siap menjelma sebagai motor penggerak ekonomi baru di koridor barat Pulau Sumatera.






