Kirka – Sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar roda ekonomi Provinsi Lampung.
Namun, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap pergeseran struktur, laju industri pengolahan makin kencang membayangi dominasi sektor agraris.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membenarkan pergerakan ekonomi di Bumi Ruwa Jurai mulai berubah wujud.
Sepanjang 2024 hingga awal 2025, kontribusi pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bertengger di angka 27-28 persen.
Angka yang terbilang wajar karena jutaan warga bersandar pada hasil panen padi, jagung, kopi, hingga singkong.
“Namun, mengandalkan bahan mentah semata memunculkan risiko tinggi.
“Harga di pasar global sering naik-turun, belum lagi ancaman cuaca ekstrem. Pertumbuhan ekonomi menjadi gampang goyah,” kata Mahendra, Kamis, 7 Mei 2026.
Kini, peringkat kedua PDRB diduduki oleh industri pengolahan dengan porsi 18-19 persen.
Pabrik-pabrik mulai sibuk mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi.
Laju pertumbuhannya dari kuartal ke kuartal bahkan kerap menyalip sektor pertanian, sebuah bukti nyata aliran investasi mulai deras masuk ke bidang manufaktur.
Mahendra mengambil contoh komoditas andalan daerah.
Pengusaha tidak lagi sekadar mengekspor biji kopi mentah, melainkan memproduksi kopi instan berskala besar.
Begitu pula singkong, bertransformasi menjadi tapioka dan pemanis alami lewat pabrik-pabrik besar di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Utara.
Peralihan tumpuan dari lahan garapan ke pabrik merupakan pola wajar ketika kesejahteraan sebuah daerah meningkat.
Kendati demikian, Mahendra memberi peringatan tajam soal kualitas tenaga kerja lokal.
Catatan BPS memperlihatkan sebagian besar petani lokal hanya tamatan sekolah dasar hingga menengah pertama.
Di sisi lain, pabrik pengolahan butuh pekerja dengan keahlian teknis memadai.
“Kalau kualitas sumber daya manusia lokal tidak ditingkatkan, masyarakat kita cuma jadi penonton saat pabrik-pabrik baru bermunculan,” ujar Mahendra.
Sebagai jalan keluar, ia menawarkan konsep agroindustri.
Pertanian dan manufaktur harus berjalan berdampingan tanpa saling mematikan.
Pekerjaan rumah terberat pemerintah daerah adalah memastikan keuntungan dari produk olahan ikut mengalir ke kantong petani, bukan semata dinikmati pemodal besar.
Pemerintah daerah diminta segera membenahi akses jalan dari sentra panen menuju kawasan pabrik.
Akses logistik yang lancar akan memangkas ongkos angkut sekaligus menaikkan daya saing produk lokal di pasar ekspor.
“Lampung punya masa depan cerah. Tetap menjadi lumbung pangan nasional, sekaligus membangun otot industri yang kuat,” ucapnya.






