Kirka – Kesuksesan Thailand dalam merajai pasar komoditas singkong global tak pelak memantik perhatian banyak pihak.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Staf Khusus Gubernur Lampung Bidang Industri dan Perdagangan, Mahendra Utama, membeberkan kunci utama di balik keberhasilan Negeri Gajah Putih tersebut usai merampungkan kunjungan studi sektor pertanian ke Thailand pada 27 April hingga 1 Mei 2026.
Menurut Mahendra, singkong di Thailand tak sekadar komoditas pinggiran atau tanaman sisa lahan.
Di sana, komoditas ini dikelola secara serius hingga menjadi kekuatan ekonomi yang disegani dunia.
“Perjalanan ke Thailand bukan untuk berwisata, melainkan misi menggali ilmu.
“Kami melihat langsung bagaimana sebuah bangsa mengubah tanaman rakyat menjadi komoditas bernilai tinggi,” ujar pria yang akrab disapa Mahe ini, Rabu, 6 Mei 2026.
Dalam kunjungannya ke sentra industri seperti Thai Tapioca Starch Association (TTSA) dan The Thai Tapioca Development Institute (TTDI), Mahendra menemukan bahwa rahasia utama Thailand terletak pada kolaborasi lintas sektor yang sangat kokoh.
Mahendra menjelaskan, ekosistem pertanian di Thailand berjalan menggunakan konsep Triple Helix Model yang diimplementasikan secara nyata.
Terdapat sinergi yang searah antara pemerintah, akademisi (seperti Kasetsart University), dan sektor industri swasta.
“Di TTDI, singkong benar-benar diperlakukan bak emas hijau. Benih unggul yang diproduksi tidak hanya berhenti di ruang riset, tetapi langsung didistribusikan hingga menyentuh tanah petani.
“Kolaborasi ini bahkan mendapat dukungan penuh dari pihak Kerajaan,” paparnya.
Sinergi dari hulu ke hilir inilah yang memungkinkan Thailand membangun rantai nilai (value chain) yang kuat.
Petani tidak lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah.
Singkong, sayur, dan buah-buahan diproses lebih lanjut, mulai dari teknik vacuum frying hingga diolah menjadi pati (tapioca starch) berkualitas standar ekspor.
Pertanian 4.0
Selain ekosistem bisnis, Mahendra menyoroti pesatnya mekanisasi pertanian di Thailand.
Saat mengunjungi Kubota Farm di wilayah Chon Buri, ia menyaksikan langsung bagaimana teknologi Agriculture 4.0 telah menjadi standar operasional harian, bukan lagi sekadar prototipe pameran.
“Penggunaan teknologi presisi seperti drone penyemprot pupuk dan traktor pintar yang dikendalikan dengan remote control memastikan efisiensi lahan yang maksimal,” ungkap Mahendra.
Ia menegaskan, modernisasi telah mengubah paradigma masyarakat terhadap sektor agraris.
“Masa depan pertanian ada di sana. Pertanian tidak lagi identik dengan kemiskinan dan lumpur, melainkan kecanggihan teknologi dan kemakmuran petani,” tambahnya.
Singkong Lampung
Sebagai salah satu provinsi lumbung singkong terbesar di Indonesia, Lampung dinilai memiliki potensi dan modal dasar yang sama dengan Thailand.
Namun, Mahendra menggarisbawahi perlunya perbaikan etos kerja dan pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi.
Sepulangnya ke Tanah Air, Mahendra bertekad membawa hasil observasi ini sebagai cetak biru (blueprint) untuk memajukan sektor pertanian di Lampung.
Ia optimistis, dengan kebijakan pemerintah yang berpihak, riset aplikatif dari perguruan tinggi lokal, dan dukungan teknologi dari pihak swasta, singkong Lampung bisa merajai pasar ekspor.
“Inspirasi dari Bangkok harus diubah menjadi aksi nyata demi Merah Putih.
“Karena pada akhirnya, pembangunan sejati bukan soal seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa banyak inovasi dan ilmu yang bisa kita bawa pulang untuk memuliakan tanah kelahiran,” pungkas Mahendra.






