Bundaran: Solusi “Self-Regulating” untuk Mengurai Simpul Lintas Barat Lampung?

Bundaran: Solusi "Self-Regulating" untuk Mengurai Simpul Lintas Barat Lampung?
Ilustrasi: Solusi Self Regulating Bundaran Ditawarkan untuk Atasi Kemacetan Jalur Lintas Barat (Jalinbar) Lampung. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Ketergantungan pada lampu lalu lintas di titik-titik jenuh arus kendaraan sering kali menjadi bumerang yang memicu antrean statis berkilo-kilometer.

Mengurai sengkarut di Jalur Lintas Barat (Jalinbar) Lampung memerlukan terobosan arsitektur jalan yang lebih dinamis ketimbang sekadar mengandalkan durasi lampu merah yang kaku.

Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, menyodorkan opsi pembangunan bundaran (roundabout) sebagai solusi permanen di sejumlah titik krusial, mulai dari eks-Terminal Kemiling, Tugu Coklat, hingga jantung Kota Pringsewu.

Self Regulating dan Efisiensi BBM

Menurut Mahendra, bundaran modern menawarkan mekanisme Self Regulating Traffic yang jauh lebih luwes.

Ia merujuk pada data Insurance Institute for Highway Safety (IIHS) yang mencatat bahwa transisi dari lampu merah ke bundaran mampu memangkas hambatan kendaraan (delay) hingga 62-67 persen.

“Inti dari sistem ini adalah Yielding on Entry. Kendaraan yang hendak masuk wajib memberi prioritas bagi mereka yang sudah berada di dalam lingkaran.

“Itu menciptakan aliran kontinu, bukan pola stop and go yang selama ini membuang-buang bahan bakar dan waktu masyarakat,” tegas Mahendra Utama di Bandarlampung, Jumat, 27 Maret 2026.

Kemiling Hingga Pringsewu

Berdasarkan analisis lapangan, pria yang juga menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung ini merinci beberapa lokasi yang mendesak untuk ditata ulang:

Simpang Kemiling dan Tugu Coklat:

Ketersediaan lahan di area ini dinilai cukup lapang untuk menampung diameter bundaran yang ideal.

Kehadirannya akan menetralisir konflik arus dari arah Pesawaran yang kerap terkunci saat jam sibuk.

Pertigaan Kedondong (Gedong Tataan):

Bundaran di sini bakal berperan ganda sebagai traffic calming.

Kendaraan dari arah Pringsewu dipaksa melambat secara natural, sehingga memberikan ruang aman bagi arus dari arah Kedondong untuk menyatu ke jalur utama.

Pusat Kota Pringsewu:

Mengingat keterbatasan lahan, Mahendra mengusulkan model Mini Roundabout.

Meski diameternya lebih kecil, penggunaan marka yang tegas tetap mampu menjaga ritme kendaraan agar tidak saling mengunci di tengah perempatan.

Komparasi Keberhasilan

Mahendra mencontohkan keberhasilan di Sleman, Yogyakarta, di mana persimpangan padat kini bernapas lebih lega berkat bundaran kecil.

Pola serupa juga terlihat di kawasan mandiri seperti CitraRaya Tangerang yang menggunakan sistem multi roundabout untuk mereduksi kemacetan meski volume kendaraan sangat masif.

“Model ini sudah menjadi standar di pinggiran kota Eropa dan Australia yang karakteristik jalannya sempit namun padat, sangat identik dengan wajah Kemiling atau Gedong Tataan saat ini,” tambahnya.

Edukasi

Kendati demikian, ia tidak menampik adanya tantangan besar, yakni pembebasan lahan dan kultur berkendara.

Bundaran membutuhkan radius putar yang mumpuni agar truk logistik dan bus tetap bisa bermanuver dengan lancar.

Selain itu, kesadaran pengemudi untuk memberi jalan menjadi kunci efektivitas sistem ini.

“Dinas Perhubungan dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) perlu segera turun tangan.

“Harus ada Traffic Counting yang akurat dan simulasi perangkat lunak seperti Vissim untuk menentukan dimensi teknis yang tepat di tiap titik,” pungkas Penikmat Kopi Lampung ini.

Selain mampu menekan emisi karbon akibat kendaraan yang tidak perlu lama berhenti (idling), pembangunan bundaran juga diklaim jauh lebih hemat biaya jangka panjang karena minim perawatan perangkat elektronik dibandingkan lampu lalu lintas.