Kirka – Eskalasi konflik dan ketegangan yang kembali pecah di Timur Tengah pada akhir Februari 2026 rupanya membawa rentetan dampak yang jauh lebih panjang dari sekadar isu geopolitik.
Getaran dari krisis tersebut diproyeksikan merambat langsung ke sektor vital perekonomian Provinsi Lampung, khususnya pada komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan kopi.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyatakan bahwa gangguan keamanan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan urat nadi energi dunia akan memicu efek domino berupa lonjakan harga minyak mentah global.
Hal ini pada akhirnya akan membebani biaya produksi dan logistik di tingkat petani daerah.
“Mungkin bagi sebagian orang di sini, perang itu terasa jauh di seberang lautan.
“Tapi kenyataannya, dentuman rudal di Teluk sana getarannya sampai ke dapur warga kita, ke kebun kopi di Lampung Barat, hingga ke hamparan sawit di Mesuji,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Senin, 16 Maret 2026.
Biaya Angkut Naik, Margin Petani Tergerus
Berdasarkan data awal tahun 2026, kinerja ekonomi Lampung sebenarnya menunjukkan tren yang sangat positif dengan raihan surplus perdagangan mencapai US$411 juta.
Namun, tren gemilang ini rawan terkoreksi jika harga minyak mentah dunia terus melesat hingga menyentuh US$120 per barel pasca serangan di Timur Tengah.
Menurut Mahendra, bagi para petani kelapa sawit, melambungnya harga minyak dunia ibarat buah simalakama.
Di satu sisi, harga jual Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah di pasar global biasanya akan ikut terkerek naik.
Namun di sisi lain, beban biaya produksi melonjak secara drastis.
“Harga pupuk yang bahan bakunya menggunakan gas bisa melonjak sekitar US$70 per ton.
“Belum lagi biaya sewa kapal dan asuransi pengiriman ekspor yang naik signifikan akibat tingginya risiko keamanan jalur laut,” jelasnya.
Kondisi serupa juga membayangi komoditas kopi dan lada hitam asal Lampung.
Meski pasar utama ekspor komoditas ini menyasar Tiongkok atau India yang tidak melewati jalur konflik secara langsung, kekacauan jadwal pelayaran global tetap mengerek ongkos kirim (freight rate).
Ujung-ujungnya, margin keuntungan bersih yang diterima petani semakin menipis karena tergerus besarnya ongkos logistik.
Prediksi Ekonomi 2026
Meski dihantam sentimen negatif global, Mahendra optimistis perekonomian Lampung masih memiliki daya tahan yang tangguh.
Ia memproyeksikan ekonomi Bumi Ruwa Jurai masih mampu tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5 persen hingga akhir tahun 2026.
Keyakinan itu didasari oleh kuatnya fundamental pasar domestik serta permintaan yang tetap stabil dari negara mitra dagang utama seperti India dan Tiongkok.
Tantangan terberat ke depan justru berada pada upaya stabilisasi harga pangan di pasar lokal agar inflasi akibat naiknya biaya transportasi dan pupuk dapat ditekan.
Untuk menghadapi ketidakpastian global ini, Mahendra menegaskan bahwa konflik Timur Tengah harus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha agar segera meninggalkan kebiasaan mengekspor bahan mentah.
“Ini saatnya kita berhenti cuma jadi tukang setor bahan mentah ke luar negeri. Kita harus mulai berani mengolah hasil bumi di tanah sendiri atau hilirisasi,” tegas Mahendra.
Ia merekomendasikan tiga langkah strategis yang mendesak untuk segera dieksekusi:
1. Fokus Pengolahan Lokal
Menghentikan ketergantungan ekspor CPO dan biji kopi mentah dengan mengolahnya menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi, seperti bahan sabun, margarin, atau kopi bubuk premium.
Rencana pengadaan 500 unit alat pengering di pedesaan dinilai sudah tepat untuk menjaga kualitas panen.
2. Diversifikasi Pasar Ekspor
Mencari alternatif pasar baru di kawasan Afrika atau Asia Tenggara yang jalur distribusinya relatif lebih aman dari paparan konflik geopolitik.
3. Peralihan ke Pupuk Organik
Mendorong penggunaan pupuk organik buatan lokal untuk melepaskan ketergantungan petani dari fluktuasi harga gas dunia yang menjadi bahan baku pupuk kimia.
Lebih lanjut, Mahendra memberikan apresiasi atas langkah antisipatif yang telah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan.
Sinergi antara Pemerintah Provinsi Lampung, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan dinilai cukup efektif dalam meredam gejolak ekonomi di tingkat masyarakat bawah.
Kehadiran forum investasi seperti Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) juga dinilai krusial untuk menarik modal masuk ke sektor industri pengolahan.
“Sampai akhir 2026, kita mungkin harus ikat pinggang karena biaya produksi yang mahal. Tapi kalau kita fokus mengolah hasil tani sendiri, krisis ini justru menjadi titik balik.
“Lampung bukan lagi sekadar pelayan yang mengirim bahan baku, tapi harus berubah jadi pusat industri pertanian yang tangguh di panggung dunia,” pungkasnya.






