Kirka – Rebung atau tunas bambu muda selama ini kerap dipandang sebelah mata dan sekadar dianggap sebagai lauk rumahan yang sederhana.
Namun, siapa sangka bahan pangan lokal ini menyimpan potensi besar sebagai superfood (pangan super) yang ampuh mengontrol diabetes sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi daerah, khususnya di Provinsi Lampung.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa berdasarkan teori gizi modern, rebung sangat memenuhi kriteria sebagai superfood karena padat nutrisi namun rendah kalori.
“Satu cangkir rebung matang hanya mengandung sekitar 64 kalori, tapi di dalamnya terdapat 2,5 gram protein, 2 gram serat, serta deretan vitamin seperti A, B6, E, thiamin, dan niasin.
“Mineralnya pun sangat lengkap, mulai dari potasium, selenium, hingga zat besi,” ujar Mahendra.
Gula Darah dan Kolesterol
Lebih lanjut, Mahendra memaparkan bahwa rebung memiliki keunggulan dalam menjaga kesehatan metabolik, terutama bagi penderita diabetes.
Berdasarkan meta analisis terbaru, rebung memiliki indeks glikemik yang rendah serta kaya akan serat inulin yang terbukti memperlambat penyerapan glukosa.
“Kandungan serat inilah yang berperan penting dalam mencegah resistensi insulin, sehingga sangat ideal untuk membantu regulasi gula darah bagi penderita diabetes,” tegasnya.
Dari sisi kesehatan jantung dan pencernaan, rebung kaya akan antioksidan dan fitosterol.
Menurut Mahendra, fitosterol bekerja efektif menurunkan kadar kolesterol jahat, sementara serat selulosa dan hemiselulosa di dalamnya mendukung mikrobioma usus (gut health) dan mencegah sembelit.
Meski kaya manfaat, ia memberikan catatan kritis.
“Rebung ini bukan obat ajaib pengganti medis, melainkan pelengkap diet seimbang.
“Selain itu, cara memasaknya harus benar untuk menghilangkan toksin alami seperti sianogen,” tambahnya.
Diakui Pakar Gizi
Klaim rebung sebagai pangan super rupanya sejalan dengan temuan para akademisi.
Mahendra turut merujuk pada pernyataan sejumlah pakar dunia dan nasional yang memvalidasi manfaat tunas bambu ini.
Pakar internasional seperti Prof. Lee Smith dari Anglia Ruskin University dan Joan Salge Blake dari Boston University menyebut rebung sangat potensial mengatasi penyakit jantung dan mendukung sistem pencernaan.
Pakar nutrisi Amerika Serikat, Dr. William Li, bahkan mencatat bahwa khasiat rebung sejatinya sudah diandalkan di Asia sejak 2.000 tahun lalu dan kini didukung oleh riset modern.
“Di dalam negeri, Prof. Agung Endro Nugroho dari UGM juga menegaskan bahwa rebung adalah bahan pangan rendah kalori yang sangat ideal untuk menekan angka obesitas dan diabetes di Indonesia,” terang Mahendra.
Harta Karun Ekonomi Lampung
Tidak hanya dari kacamata kesehatan, Mahendra juga menyoroti potensi ekonomi rebung yang luar biasa bagi Provinsi Lampung.
Secara nasional, nilai produksi bambu sempat menembus angka USD 1,7 miliar pada tahun 2020 dengan proyeksi pertumbuhan yang solid hingga 2028, di mana rebung menjadi salah satu komoditas utamanya.
Sebagai provinsi agraris, Lampung memiliki modal besar.
Riset Universitas Lampung (Unila) membuktikan bahwa praktik pemeliharaan bambu seperti weeding dan silvikultur yang tepat mampu melesatkan angka produksi rebung.
Kawasan Metro Lampung disebut sebagai salah satu lokasi potensial.
“Kita sudah melihat contoh nyata. Universitas Ma’arif Lampung sukses membuat program diversifikasi rebung menjadi kerupuk hingga tusuk gigi dengan melibatkan puluhan ibu rumah tangga.
“Potensi produksi di Lampung ini bisa mencapai ribuan ton per tahun,” ungkap Mahendra.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa rebung adalah aset pembangunan berkelanjutan yang harus diseriusi.
“Dengan pendekatan kritis, riset lanjutan, dan suntikan investasi pasar,
“Lampung bisa memimpin industri ini. Rebung bukan sekadar makanan biasa, ini peluang ekonomi masif yang belum tergarap maksimal,” pungkasnya.






