KIRKA – Tiga sosok bakal capres 2024 belum mewakili suara pemilih muda meskipun lihai di berbagai platform media sosial.
Media sosial menjadi panggung politik bagi tiga bakal capres yang diperkirakan maju pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan.
Namun, sejauh ini, menurut generasi Z atau generasi internet (i generation) ketiga bakal capres 2024 itu belum mewakili suara pemilih muda yang menginginkan masa depan lebih baik.
“Pencitraan ketiga bakal capres cukup kencang di media sosial, apalagi sekarang era digital,” kata Syendi Arjuna (21) saat ditemui di Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung, pada Senin (22/5/2023) sore.
Baca Juga: Wahrul Fauzi Silalahi: pemilih milenial tidak suka pencitraan
Mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan ini melihat sosok Ganjar Pranowo paling sering wira-wiri di media sosial (medsos).
“Paling kencang itu Ganjar, kayak di highlight. Aku sering melihat Ganjar di medsos, tapi bukan berarti aku mendukung Ganjar,” ujar Syendi.
Warga Lampung Utara ini menilai media sosial sangat efektif bagi bakal capres 2024 untuk memengaruhi pemilih.
“Contoh kasus terdekat itu Bima. Efek dari Bima enggak akan segede ini kalau tidak ada media sosial. Dan kita bisa melihat masyarakat Lampung juga sudah berani (bersuara) karena Bima sudah bersikap begitu juga,” jelas dia.
Baca Juga: Intimidasi Tiktoker Bima Cermin Demokrasi di Lampung
Tapi, secara pribadi, Syendi menekankan bahwa masyarakat hari ini sudah cerdas, khususnya pemilih muda, yang menginginkan adanya perubahan lewat program kerja bakal capres.
“Membuat aturan tidak sepihak, tidak otoriter. Punya visi misi yang relevan dengan zaman sekarang seperti isu buruh, ketenagakerjaan, dan lingkungan,” kata dia.
Menurut Syendi, pada Pemilu 2024, isu-isu korupsi kurang dilirik oleh pemilih muda karena sudah umum.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, Arif Sanjaya (20), mengatakan sosok ketiga bakal capres 2024 yang dimunculkan hari ini tak lagi relevan dengan kriteria pemilih muda.
“Menurut saya, ada bakal capres yang pemain lama, usianya sudah 71 tahun. Sebenarnya, dia itu sudah tidak seberapa relevan kalau sama anak muda,” ujar Arif.
“Ada juga yang usianya 54 tahun, dekat dengan generasi milenial, masih paham TikTok dan media sosial,” lanjut dia.
Tapi, kata Arif, menggunakan media sosial belum tentu mewakili generasi milenial walaupun sudah menyasar ke arah sana.
“Isu-isu kaum milenial yang diperjuangkan tidak ada. Pemilih milenial itu kan ingin ada orang-orang baru dengan isu-isu yang progresif, kayak perubahan iklim, adaptasi teknologi, lapangan pekerjaan,” jelas dia.
Baca Juga: Ketua Umum KNPI Haris Pertama Tegaskan Pemuda Harus Berpolitik
Pemuda asal Way Kanan ini menilai kelompok pemilih muda belum tentu simpati dengan bakal capres yang setiap hari menyebar konten di media sosial.
“Apalagi mereka punya tim media,” pungkas Arif.
Pendapat lain disampaikan oleh mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Lampung, M Rifqi Mundayin (21), dari Kota Bandar Lampung.
“Menurut saya, ada yang sesuai dengan kriteria pemilih milenial, bisa dilihat dari kampanye dan track recordnya,” kata dia.
Meski begitu, Rifqi mengajak pemilih muda untuk mengenal lebih jauh sosok bakal capres 2024 dengan memperbanyak literasi digital.
Hal senada disampaikan oleh Antuk (21) mahasiswa Teknik Kimia Universitas Lampung dari Rejang Lebong, Bengkulu.
“Kadang searching juga profil dan rekam jejak bakal capres. Sering melihat kegiatan-kegiatan mereka di media sosial. Kadang video lama di-up lagi,” ujar dia.
Baca Juga: Ambang Batas Minimal Usia Capres-Cawapres Berpotensi Berubah
Antuk melihat isu kesetaraan gender masih perlu diperjuangkan di Pemilu 2024.
“Isu kesetaraan gender itu, ke depan, masih relevan. Apalagi calon pemimpin di tingkat pilpres jarang banget mengangkat capres/cawapres perempuan,” kata dia.






