6 Daerah Pemilik PDRB Tertinggi di Lampung Tahun 2025, Lampung Tengah Memimpin

6 Daerah Pemilik PDRB Tertinggi di Lampung Tahun 2025, Lampung Tengah Memimpin
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama menyoroti pergeseran pusat ekonomi dan pentingnya hilirisasi seiring tingginya capaian PDRB Lampung Tengah pada 2025. Foto: Arsip pribadi/Wiki/Kirka/I

Kirka – Pusat gravitasi ekonomi Provinsi Lampung mengalami pergeseran signifikan pada tahun 2025.

Data terbaru Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menunjukkan wilayah agraris dan sentra industri pengolahan mulai mendominasi, dengan Kabupaten Lampung Tengah kokoh memimpin di posisi puncak kekuatan ekonomi daerah.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, terdapat enam daerah yang mencatatkan nilai PDRB di atas Rp33 triliun.

Kabupaten Lampung Tengah berada di urutan pertama dengan angka mencapai Rp105,45 triliun, disusul Kota Bandarlampung di posisi kedua sebesar Rp85,98 triliun.

Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, menilai fenomena ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Bumi Ruwa Jurai tidak lagi bertumpu pada kawasan metropolitan semata, melainkan sudah bergeser ke wilayah produksi pangan dan komoditas primer.

“Pusat pertumbuhan ekonomi kini menyebar secara nyata ke daerah-daerah yang memiliki basis produksi kuat.

“Itu menjadi sinyal positif bahwa sektor rill di tingkat kabupaten bergerak sangat dinamis,” ujar Mahendra Utama, di Bandarlampung, Senin, 25 Mei 2026.

Setelah Lampung Tengah dan Bandarlampung, posisi ketiga ditempati oleh Kabupaten Lampung Selatan dengan nilai PDRB sebesar Rp65,66 triliun.

Kabupaten Lampung Timur menyusul di peringkat keempat dengan raihan Rp60,94 triliun.

Sementara itu, posisi kelima dan keenam masing-masing ditempati oleh Kabupaten Lampung Utara sebesar Rp34,46 triliun dan Kabupaten Tulang Bawang dengan Rp33,24 triliun.

Agroindustri Lampung Tengah

Menurut Mahendra, keberhasilan Lampung Tengah menembus angka PDRB di atas Rp105 triliun bukan merupakan sesuatu yang instan.

Kabupaten tersebut berhasil memaksimalkan kombinasi strategis antara luas wilayah, kepadatan populasi, dan penguatan sektor agroindustri berbasis komoditas.

Komoditas utama seperti singkong, jagung, padi, hingga tebu tidak lagi sekadar dijual dalam bentuk mentah, melainkan telah terintegrasi dengan aktivitas industri pengolahan dan peternakan skala besar yang menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal.

“Aktivitas ekonomi di Lampung Tengah membuktikan bahwa sektor pertanian tidak selalu identik dengan produktivitas bernilai rendah.

“Ketika sektor primer dikombinasikan secara apik dengan industri pengolahan dan jaringan distribusi yang kuat, ia mampu menjadi motor pertumbuhan utama yang mengalahkan dominasi sektor jasa perkotaan,” kata Mahendra menjelaskan.

Perkembangan juga mempertegas terbentuknya koridor produksi baru di luar kawasan Bandarlampung.

Lampung Timur, Lampung Utara, dan Tulang Bawang terus memperkuat posisi mereka sebagai lumbung pangan dan perkebunan skala besar yang menopang ketahanan ekonomi regional.

Bandarlampung Simpul Jasa dan Logistik

Meski posisinya berada di peringkat kedua di bawah Lampung Tengah, Kota Bandarlampung dinilai tetap memegang peranan yang sangat strategis dan tidak tergantikan.

Sebagai pusat pemerintahan, Bandarlampung berfungsi sebagai urat nadi bagi sektor perdagangan besar, jasa keuangan, pendidikan, serta aktivitas logistik.

Fungsi aglomerasi perkotaan di kota ini tetap kuat, di mana perbankan dan pusat distribusi barang regional terkonsentrasi penuh.

“Secara volume output fisik ekonomi, Lampung Tengah memang memimpin.

“Namun, Bandarlampung tetap menjadi simpul utama layanan, konektivitas, dan arus sirkulasi keuangan regional. Keduanya saling melengkapi dalam struktur ekonomi provinsi,” urai Mahendra.

Hilirisasi Penuh

Menyikapi capaian angka-angka PDRB regional yang tinggi tersebut, Mahendra Utama mengingatkan bahwa tantangan terbesar pemerintah daerah ke depan bukan lagi sekadar mengejar besaran statistik pertumbuhan, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah nyata melalui hilirisasi komoditas.

Ia menekankan pentingnya mendorong industrialisasi domestik untuk komoditas unggulan Lampung agar memberikan proteksi ekonomi yang lebih baik bagi para petani lokal.

“Angka PDRB yang besar ini berisiko berhenti sebagai catatan di atas kertas jika kita gagal melakukan transformasi struktur ekonomi.

“Daerah-daerah agraris wajib bergerak cepat menuju hilirisasi penuh agar nilai tambah produk dinikmati di daerah asal, sementara kawasan perkotaan harus terus memperkuat efisiensi jasa modern mereka,” pungkasnya.