Pemilih Muda di Pemilu 2024, Antara Pragmatisme dan Idealisme

Pemilih Muda di Pemilu 2024, Antara Pragmatisme dan Idealisme
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Lampung, Dra. Handi Mulyaningsih, M.Si., berharap pemilih muda tidak terjebak dalam pragmatisme politik di Pemilu 2024 saat ditemui di Grand Anugerah, Kota Bandar Lampung, Jumat (7/7/2023). Foto: Josua Napitupulu

KIRKA – Pemilih muda di Pemilu 2024 diharapkan tidak terjebak dalam pragmatisme politik dengan mengedepankan idealisme.

KPU Provinsi Lampung menyebutkan jumlah generasi milenial dalam DPT Provinsi Lampung Pemilu 2024 mencapai 2.094.127 jiwa atau 32.02 persen dari total jumlah pemilih sebanyak 6.539.128 jiwa.

Kemudian generasi Z berusia 17-24 tahun sebanyak 1.174.188 atau 17.96 persen.

Baca Juga: DPT Provinsi Lampung Pemilu 2024 Didominasi Generasi Milenial

Menurut Dosen Sosiologi FISIP Universitas Lampung, Dra. Handi Mulyaningsih, M.Si., pemilih milenial dan generasi Z memiliki karakter yang lebih cair dalam menentukan pilihan politik.

Berbeda halnya dengan generasi baby boomer usia 56-76 tahun yang sangat terikat dengan fatsun-fatsun politik.

“Selain itu, pemilih muda juga lebih banyak berinteraksi dengan media sosial. Sehingga dia akan dewasa secara politik melalui media sosial,” ujar Handi saat ditemui di Bandar Lampung, Jumat (7/7/2023).

Media sosial hari ini, lanjut dia, bisa menjadi sarana pendidikan politik bagi masyarakat atau sebaliknya sebagai breaker dengan masifnya berita hoaks.

“Kualitas pemilu tergantung pada (media sosial) itu karena generasi milenial ini konsumsinya kan media sosial. Tinggal bagaimana aktor-aktor politik, kalau mau bagus, ya dia bijak melakukan pendidikan politik,” jelas Handi.

Pemilih muda terjebak politik uang di Pemilu 2024.

Handi Mulyaningsih juga tidak menampik ada sebagian dari pemilih muda di Pemilu 2024 yang akan terjebak dalam politik uang.

Mereka akan menentukan pilihannya di TPS (Tempat Pemungutan Suara) berdasarkan iming-iming atau janji.

“Politik uang ini sudah sangat mengakar bisa jadi sebagian milenial yang belum terdidik secara politik (terjebak) karena dia tidak kritis menghadapi dinamika politik yang ada,” kata Handi.

Anggota KPU Provinsi Lampung 2014-2019 ini menilai saat ini pragmatisme sudah menjadi semacam budaya atau gaya hidup untuk menentukan pilihan.

“Saya kira pragmatisme itu sudah menjadi semacam budaya untuk mengambil keputusan. Semua sudut pandangnya uang. Kalau mau dibilang kapitalis ya memang, tapi yang jelas pragmatisme itu menjadi gaya hidup,” jelas Handi.

Handi Mulyaningsih mengajak masyarakat khususnya pemilih muda tidak menyamakan uang dengan pilihan pada Pemilu 2024.

“Masyarakat harus mulai bisa membedakan yang mana uang dan mana pilihan. Karena salah pilih juga sangat berisiko terhadap kegagalan dan keberhasilan Indonesia dalam waktu lima tahun,” kata dia.