Pasar Murah Ramadan: Jurus Jitu Jaga Stabilitas Harga Pangan Daerah

Pasar Murah Ramadan: Jurus Jitu Jaga Stabilitas Harga Pangan Daerah
Ilustrasi: Pasar Murah Ramadan, sediakan beras hingga telur subsidi untuk jaga stabilitas harga pangan jelang Idul Fitri 2026 Foto: Arsip Wiki/DBS/Kirka/I

Kirka – Ancaman lonjakan harga bahan pokok yang selalu membayangi menjelang Ramadan perlahan diredam di Provinsi Lampung.

Langkah tancap gas sejumlah pemerintah daerah, seperti Kabupaten Pesawaran dan Waykanan, dalam menggelar pasar murah dinilai sebagai manuver taktis yang jauh lebih bermakna dari sekadar ritual tahunan.

Penilaian tersebut dilontarkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.

Menurutnya, penetrasi langsung ke akar rumput melalui operasi pasar adalah wujud nyata determinasi negara dalam melindungi daya beli masyarakat dari distorsi harga dan inflasi jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) 2026.

“Ini bukan sekadar ajang jualan murah,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 4 Maret 2026.

Dalam kacamata ekonomi, saat mekanisme pasar gagal menyediakan barang terjangkau akibat spekulasi rantai pasok, negara mutlak harus turun tangan.

“Pasar murah secara riil menciptakan price ceiling atau batas harga psikologis yang memaksa para pedagang di luaran menahan diri untuk tidak mematok harga gila-gilaan,” jelasnya.

Fakta di lapangan mengonfirmasi analisis tersebut.

Di Desa Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, misalnya, warga tumpah ruah demi mendapatkan akses pangan bersubsidi.

Bupati Pesawaran, Nanda Indira, secara tegas memastikan bahwa harga komoditas vital seperti beras, minyak goreng, dan telur dipatok jauh di bawah nilai keekonomian pasar demi memberi ruang napas bagi warga.

Antusiasme itu terekam jelas dari raut wajah Marsinah, warga setempat yang ikut mengantre.

“Semoga kegiatan ini rutin terus, sangat membantu buat persiapan bulan puasa sekarang,” ucapnya.

Testimoni sederhana tersebut, menurut Mahendra, adalah cermin validasi keberhasilan program dari kacamata penerima manfaat langsung.

Jebakan Seremonial

Kendati mengapresiasi, Mahendra mengingatkan agar operasi semacam ini tidak mandek sebagai etalase seremonial belaka.

Ia membedah tiga jurus fundamental agar intervensi harga ini berdampak sistemik dan berjangka panjang.

Pertama, akurasi data dan titik distribusi yang harus menjangkau episentrum kelompok rentan.

Keputusan Pemkab Pesawaran memecah konsentrasi pasar murah di tujuh titik strategis dinilai sudah berada di jalur yang tepat.

Kedua, sinergi lintas wilayah. Manuver serupa yang dilakukan Pemkab Waykanan, serta back up penuh dari Pemerintah Provinsi Lampung, membuktikan bahwa kestabilan harga skala regional bisa dicapai jika ego sektoral ditekan.

“Ketiga, napas panjang program. Gejolak harga itu biasanya fluktuatif hingga H-7 Idul Fitri.

“Keberlanjutan pasokan adalah kunci utama,” imbuh sosok yang akrab disapa Bang Mahe ini.

Terkahir, ia tak segan memberikan kredit khusus bagi para kepala daerah, jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan, hingga aparatur kecamatan yang berjibaku di lapangan mengatur logistik.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk Pemkab Pesawaran di bawah kepemimpinan Bupati Nanda Indira, Pemkab Waykanan, dan jajaran Pemprov.

“Langkah cepat ini membuktikan pemerintah tidak hanya duduk manis sebagai regulator, tapi menjelma menjadi penyangga utama ketenangan warga di bulan penuh berkah,” pungkasnya.