Kirka – Selama berdekade, kejayaan industri sawit nasional seolah tersandera oleh kebanggaan semu, hamparan kebun yang luar biasa luas, namun kedodoran dalam urusan produktivitas jika disandingkan dengan negara tetangga.
Paradigma usang ini diyakini segera berakhir menyusul langkah strategis PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang Nota Kesepahaman (MoU) kedua institusi pada 11 Maret 2026 lalu bukan sebatas seremoni birokrasi, melainkan titik balik kedaulatan sawit yang digerakkan oleh sains.
“Ini penegasan sikap. BUMN pangan dan energi kita mulai sadar, otot berupa lahan yang luas mutlak dikendalikan oleh otak, yakni riset dan teknologi,” tegas Mahendra Utama, Minggu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, status Indonesia sebagai pemilik kebun sawit terluas di dunia justru rentan digoyang isu lingkungan jika beroperasi secara konvensional dan nirkajian.
Mahendra sepakat dengan visi Wakil Direktur Utama Agrinas, Kusdi Sastro Kidjan, yang berani berkaca pada kesuksesan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) dalam mensinergikan birokrasi, pelaku industri, dan laboratorium.
Menyitir teori Competitive Advantage usungan Michael Porter, Mahendra mengingatkan bahwa keunggulan sebuah bangsa tak lagi bersandar pada anugerah alam semata, tetapi pada inovasi.
“Pernyataan Pak Kusdi bahwa kita harus beralih dari eksploitasi lahan menjadi eksploitasi inovasi adalah pengakuan yang jujur.
“Kita tidak cukup hanya menepuk dada sebagai yang terluas, tapi harus membuktikan diri sebagai yang paling produktif,” ujarnya.
Pertanian Presisi dan Komando Sains
Dari sisi hulu, adopsi konsep precision agriculture yang ditawarkan Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, dinilai Mahendra sebagai jawaban konkret atas inefisiensi.
Penggunaan teknologi genomik dan bioinformatika untuk menyeleksi benih bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan prasyarat mutlak industri modern.
Apalagi, Agrinas saat ini memegang kendali atas 1,7 juta hektare lahan, dengan 740 ribu hektare di antaranya telah berproduksi.
Pemetaan digital diproyeksikan mampu memangkas biaya pupuk secara drastis, sekaligus menepis kampanye hitam global terkait kerusakan ekosistem.
Terobosan tak berhenti di hulu. Di sektor hilir, Mahendra menggarisbawahi langkah Agrinas mengubah limbah sawit menjadi gula industri dan pakan ternak.
Ini adalah wujud nyata Circular Economy, mengubah residu menjadi nilai tambah ekonomi agar tercipta konsep zero waste.
Menariknya, transformasi besar BUMN digawangi oleh struktur kepemimpinan yang unik.
Figur berlatar belakang militer seperti Jenderal TNI (Purn) Agus Sutomo dan Letjen TNI (Purn) Wisnoe Prasetja Boedi, kini berkolaborasi erat dengan para peneliti top BRIN.
Bagi Mahendra, perpaduan itu adalah bentuk eksekusi presisi atas visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Ketahanan pangan dan energi memang membutuhkan komando dan disiplin eksekusi ala militer.
“Namun, arah tembaknya wajib dipandu oleh kompas sains. Ini bukti pengelolaan aset negara mulai berbasis data, bukan sekadar bagi-bagi konsesi,” imbuhnya.
Menilik agresivitas Agrinas mengamankan lahan strategis, termasuk potensi raksasa di Papua Selatan, Mahendra meyakini dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, perusahaan akan berevolusi menjadi pusat inovasi sawit di Asia Tenggara.
Ada tiga target besar yang menanti dari kolaborasi ini, kemandirian benih via teknologi genomik, pelopor Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan gula industri nasional, serta penciptaan standar sawit ramah ekosistem.
“Kolaborasi Agrinas dan BRIN adalah oase di tengah dahaga riset nasional.
“Asal komitmen persisten dijaga, dunia akan mengenal sawit Indonesia bukan lagi karena seberapa luas lahannya, tapi karena kecerdasan pengelolaannya,” pungkas Mahendra.






