Kirka – Label mahal dan embel-embel impor telanjur menjelma menjadi standar emas gizi di meja makan keluarga Indonesia.
Selama satu dekade terakhir, salmon atau daging sapi kerap didewakan, sementara tangkapan nelayan lokal sering dipandang sebelah mata.
Padahal, hegemoni persepsi ini justru dinilai menggerus kedaulatan pangan nasional.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, secara tajam menggugat fenomena tersebut.
Menurutnya, rasa inferioritas terhadap hidangan tanpa label impor adalah sesat pikir yang harus segera dibongkar.
“Ini bukan sekadar adu gengsi, tapi bicara fakta di atas meja laboratorium,” tegas Mahendra Utama di Bandarlampung, Selasa, 17 Maret 2026.
Tokoh yang juga dikenal sebagai Eksponen 98 ini membedah data betapa superiornya komoditas perairan Nusantara.
Kandungan Omega-3 pada ikan kembung (Rastrelliger), misalnya, terbukti sukses membungkam pamor salmon.
Kembung mencatatkan angka 2,2 gram per 100 gram, menundukkan salmon yang tertahan di level 1,6 gram.
Belum lagi ihwal kesegaran. Rantai pasok domestik yang ringkas otomatis memangkas intervensi bahan pengawet kimiawi, ironi yang justru kerap membayangi produk beku lintas benua.
Mahendra kemudian merinci harta karun nutrisi lainnya yang berserakan di perairan lokal.
Mulai dari ikan gabus dengan kandungan albumin tinggi (6,2 gram) sebagai akselerator penyembuhan jaringan, hingga ikan teri yang menyimpan kalsium raksasa sebesar 972 mg, jauh di atas segelas susu konvensional guna mencegah stunting dan osteoporosis.
“Kita juga punya tongkol dan tuna dengan protein 24 hingga 26 persen untuk fondasi kecerdasan otak anak.
“Bahkan, ikan lele berani diadu dengan daging sapi dalam urusan pasokan Vitamin B12, tentu dengan nilai ekonomis yang jauh lebih masuk akal,” urainya.
Dukungan Kebijakan
Di mata Mahendra, stempel ikan rakyat yang kerap bernada peyoratif untuk kembung maupun nila wajib direkonstruksi.
Label murah ditegaskannya bukan sinonim dari kualitas rendahan.
Harga terjangkau murni lahir dari efisiensi logistik dan melimpahnya stok di perairan ibu pertiwi.
Ia mengingatkan, ketergantungan pada asupan impor hanya akan menyandera gizi anak bangsa pada fluktuasi nilai tukar dolar.
Gagasan kemandirian pangan ini nyatanya gayung bersambut dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung.
Di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlaela, kampanye Gerakan Makan Ikan Lokal mulai bertransformasi dari sekadar jargon menjadi intervensi ekonomi dan budaya yang riil.
Mahendra menilai langkah proaktif Iyai Mirzani dan Mbak Jihan sangat taktis.
Keduanya menyadari bahwa perang semesta melawan stunting tak semestinya menguras devisa untuk belanja bahan pangan asing.
“Optimalisasi potensi laut dan budidaya air tawar adalah jalan keluar terbaik.
“Pemprov kini tengah mengarahkan warganya untuk pulang ke meja makan lokal, memastikan setiap anak di pelosok Lampung mendapat asupan protein kualitas wahid tanpa perlu repot menunggu kapal kargo merapat dari Norwegia,” papar Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis tersebut.
Kedaulatan gizi sejatinya bermula dari piring makan sehari-hari.
Bangsa yang merdeka adalah mereka yang mampu mencukupi nutrisinya dari kekayaan tanah dan airnya sendiri.
Bagi Mahendra, ikan lokal telah melampaui fase sebagai sekadar opsi substitusi.
“Ikan lokal bukan alternatif, ia adalah primadona dan pilihan utama,” pungkasnya.






