Ekspor Lampung 2026: Digdaya Agrikultur dan Tantangan Geopolitik

Ekspor Lampung 2026: Digdaya Agrikultur dan Tantangan Geopolitik
Ilustrasi: Aktivitas bongkar muat kontainer komoditas agrikultur di pelabuhan. BPS mencatat ekspor Lampung sukses menembus USD500,14 juta pada Januari 2026, ditopang kuatnya permintaan global atas minyak nabati, kopi, dan rempah. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Kinerja ekspor Provinsi Lampung menunjukkan keperkasaannya di awal tahun 2026.

Di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah, nilai ekspor Lampung justru sukses mencatatkan angka USD500,14 juta pada Januari 2026, ditopang kuat oleh sektor agrikultur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut tumbuh 4,73 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 (USD477,54 juta).

Secara tahunan, rekam jejak ekspor Lampung sepanjang 2025 juga melesat 18,78 persen menjadi USD6,64 miliar dari sebelumnya USD5,59 miliar pada 2024.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai tren positif ini menjadi bukti sahih ketangguhan fundamental ekonomi Lampung, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.

“Pemicu utamanya jelas dominasi komoditas agrikultur.

“Golongan lemak dan minyak nabati (HS 15) masih menjadi tulang punggung utama yang menyumbang 40 hingga 45 persen dari total ekspor Lampung,” ujar Mahendra, Rabu, 4 Maret 2026.

Selain minyak nabati, Mahendra juga menyoroti komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah yang terus menunjukkan daya saingnya di pasar global.

Menurutnya, hal ini menjadi indikator positif berjalannya proses hilirisasi produk perkebunan di daerah.

Kuatnya kinerja ekspor ini juga dikonfirmasi oleh Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa.

“Neraca perdagangan kita mencatatkan surplus yang signifikan, yakni sebesar USD411,47 juta,” ungkap Sabiel.

Buffer Alami

Satu hal yang menarik adalah anomali ekspor Lampung yang kebal terhadap guncangan geopolitik global.

Mahendra Utama menjelaskan, meski kawasan Timur Tengah sedang memanas, ekspor Lampung tetap tumbuh subur karena strategi pasar yang tepat sasaran.

Pasar utama Lampung ternyata bertumpu pada negara-negara non-Timur Tengah.

Sepanjang 2025, Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan pangsa 15,36 persen, disusul Pakistan (9,48 persen), dan Tiongkok (9,4 persen).

“Data ini membuktikan bahwa permintaan dari pasar tradisional kita mampu mengkompensasi ketidakpastian di kawasan konflik.

“Secara teori ekonomi, diversifikasi pasar ini telah menjadi buffer atau bantalan alami terhadap gejolak geopolitik regional,” urai Mahendra.

Infrastruktur dan PR Hilirisasi

Di balik angka statistik yang memuaskan, Mahendra juga menggarisbawahi peran krusial kebijakan pemerintah daerah.

Fakta bahwa 84,74 persen aktivitas ekspor dilakukan langsung melalui pelabuhan di Lampung menjadi bukti efektivitas infrastruktur logistik lokal.

“Tingginya persentase arus barang lewat pelabuhan lokal menunjukkan birokrasi kita mendukung kelancaran logistik.

“Tanpa stabilitas iklim usaha dan kemudahan perizinan dari Pemprov dan Pemkab, konsistensi produksi dan ekspor komoditas unggulan ini mustahil tercapai,” jelasnya.

Meski demikian, Mahendra mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak cepat berpuas diri.

Ia menekankan bahwa tantangan ke depan adalah memperkuat industri pengolahan dalam negeri.

“Momentum ini harus dijaga. Pekerjaan rumah kita selanjutnya adalah mendorong hilirisasi lebih masif lagi.

“Kita tidak boleh hanya mengandalkan ekspor bahan mentah atau minyak nabati dasar, agar nilai tambah ekonomi yang lebih besar bisa dinikmati langsung oleh petani dan pelaku usaha lokal di Lampung,” pungkas Mahendra.