Menu
Precision, Actual & Factual

Antam Novambar dan BNI Cabang Gambir di Balik Uang Rp 52 M yang Disita KPK dalam Perkara Edhy Prabowo

  • Bagikan
Terdakwa Edhy Prabowo, mantan Menteri KKP. Foto Istimewa

KIRKA.CO – KPK baru saja melaksanakan penyitaan uang senilai Rp 52,3 M yang diduga masih berkaitan dengan perkara mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Kegiatan itu berlangsung pada Senin, 15 Maret 2021 dan bertempat di Bank BNI Cabang Gambir, Jakarta Pusat.

Dalam penjelasan Plt Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri, uang tersebut diduga masih berkaitan dengan komitmen fee atas kasus hukum Edhy Prabowo dalam hal suap ekspor benih lobster.

Lebih tepatnya, uang tersebut diduga KPK masih berasal dari perusahaan-perusahaan yang mendapatkan izin ekspor lobster.

“Hari ini penyidik menyita aset berupa uang tunai Rp 52,3 miliar,” kata Ali Fikri.

Selain menerakan tempat berlangsungnya pelaksanaan penyitaan uang itu, KPK juga menyebut nama Antam Novambar.

KPK menduga Edhy Prabowo memerintahkan Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar untuk membuat surat perintah tentang jaminan bank.

KPK pun menduga bahwa calon eksportir diharuskan menyerahkan uang sebagai garansi bank.

Ali Fikri mengatakan tak ada aturan yang mengatur mengenai bank garansi tersebut. “KPK menduga ini merupakan komitmen dari eksportir benih lobster,” ungkap Ali.

Setelah menyita uang, KPK selanjutnya membawa puluhan miliar tersebut menggunakan minibus.

Dalam pelaksanaannya, KPK membutuhkan dua buah troli untuk mengangkut uang tersebut saat kegiatan serah terima di Gedung KPK.

Dilansir dari Jawa Pos, Ali Fikri tak memungkiri KPK ke depannya bakal mengagendakan pemeriksaan terhadap Antam Novambar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui terkait dugaan perintah khusus dari Edhy Prabowo kepada Antam.

“Tentunya nanti akan kami konfirmasi lebih lanjut kepada para saksi apakah kemudian ada unsur kesengajaan, misalnya dalam konstruksi secara keseluruhan proses di dalam dugaan korupsi seluruh peristiwa yang ada di perkara ini,” ucap Ali.

Ali memastikan, uang senilai puluhan miliar itu akan dikonfirmasi kepada saksi-saksi. “Yang terpenting uang telah dilakukan penyitaan dan akan dikonfirmasi kepada para saksi, saksinya siapa yang nanti akan dipanggil untuk dikonrfirmasi dan barang bukti ini nanti akan kami sampaikan lebih lanjut,” ujar Ali.

Meski demikian, Ali belum bisa membeberkan secara rinci kapan penyidik KPK akan memeriksa Antam terkait dugaan penerimaan uang Rp 52,3 miliar yang diduga dari hasil suap benur itu.

“Tentu ini kan perkara ada keterbatasan waktu ya, kurang lebih dua sampai tiga minggu lagi seharusnya selesai, otomatis nanti perkembangannya ke depan akan kami sampaikan siapa-siapa saksi akan dipanggil terkait barang bukti ini, nanti akan kami sampaikan,” cetus Ali.

Diketahui KPK telah menetapkan tujuh orang menjadi tersangka dalam perkara ini.

Selain Edhy dan Suharjito, KPK juga mentersangkakan Staf Khusus Menteri KP sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas, Safri, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan dan Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas, Andreau Pribadi Misata, dan seorang wiraswatawan, Amiril Mukminin sebagai tersangka.

Juga turut mentersangkan staf istri Edhy, Ainu Faqih dan pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi.

KPK menduga Edhy menerima duit suap dari perusahaan yang mendapatkan izin ekspor benur. Duit tersebut diduga disalurkan kepada PT ACK, satu-satunya perusahaan yang ditunjuk untuk mengangkut benur dari Indonesia ke luar negeri. KPK menduga pemilik sesungguhnya perusahaan itu adalah Edhy Prabowo.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan