Prabowo dan Diplomasi Multipolar: Indonesia Memainkan Banyak Kartu

Prabowo dan Diplomasi Multipolar: Indonesia Memainkan Banyak Kartu
Manuver Prabowo Subianto Jalin Keakraban dengan Tokoh Dunia. Foto: Arsip Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Arah kebijakan luar negeri Indonesia perlahan makin menunjukkan perluasan jangkauan diplomasi di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut deretan pertemuan antara Prabowo dan sejumlah pemimpin dunia merupakan strategi jitu agar republik tercinta tidak terperangkap menjadi negara satelit atau bawahan bagi kekuatan besar mana pun.

Belakangan, rekam jejak pergerakan Prabowo sukses merangkul tokoh-tokoh sentral dari berbagai benua.

Ia tercatat merajut keakraban bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden China Xi Jinping, hingga penguasa takhta Inggris Raya, Raja Charles III.

Hubungan bilateral juga terus dipererat melalui komunikasi bersama Perdana Menteri India Narendra Modi, pucuk pimpinan Pakistan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, serta kepala pemerintahan dari negara sahabat seperti Malaysia dan Jepang.

Menurut Mahendra, langkah diplomasi lintas benua yang dilakoni sang presiden terpilih membawa pesan kuat terkait penerapan politik bebas aktif seutuhnya.

Sikap netral dibuktikan lewat manuver proaktif menambah jumlah mitra setara di panggung internasional, alih-alih berdiam diri.

“Prabowo sendiri secara terang-terangan menegaskan bahwa kita memilih untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh negara dan tidak memihak pada kekuatan tertentu,” ucap Mahendra mengutip pedoman sang tokoh, Senin, 24 Agustus 2026.

Mahendra kemudian membedah dinamika geopolitik global berbekal kacamata teori perimbangan kekuatan (Balance of Power).

Saat blok kekuasaan dunia sedang terfragmentasi, sebuah bangsa merdeka terbebas dari keharusan merapat pada satu kutub tunggal.

Opsi memperbanyak kawan strategis justru berfungsi sebagai tameng kokoh guna mencegah ketergantungan pada satu poros kekuasaan asing.

Mantan aktivis reformasi itu merinci manfaat spesifik dari setiap kanal diplomasi yang baru saja dibangun Jakarta.

Jabat tangan dengan pemimpin Rusia dan China sukses membuka akses luas menuju kawasan utama Eurasia.

Sementara jalinan keakraban bersama Prancis dan Inggris membentangkan karpet merah menuju jantung pengambilan keputusan Benua Eropa.

Poros India dan Jepang punya fungsi tersendiri untuk mengamankan pijakan geopolitik di wilayah perairan Indo Pasifik yang rawan konflik.

Merapatnya hubungan ke Turki dan Pakistan merajut jejaring lebih solid di percaturan dunia Islam sekaligus mempertebal sabuk Eurasia.

Tidak ketinggalan, pelukan hangat sesama bangsa serumpun bersama Malaysia memastikan fondasi perhimpunan ASEAN terus mengakar kuat.

Pandangan Mahendra rupanya selaras dengan temuan riset lembaga kajian internasional ISEAS.

Laporan lembaga berbasis di Singapura memotret pergerakan Prabowo sebagai wujud kalibrasi ulang atau rebalance pada pilar politik luar negeri bebas aktif.

Tujuannya sangat jelas, membuka jalan bagi Jakarta untuk unjuk gigi mengambil peran lebih dominan mengawal isu-isu kemanusiaan dan ekonomi global.

Kendati demikian,Mahendra mengingatkan publik agar tidak keliru menafsirkan keakraban para petinggi negara sebagai sebuah garis finis dari kerja diplomasi.

“Keakraban itu murni instrumen belaka guna memperbesar daya tawar Indonesia di mata dunia.

“Pesan utamanya adalah Indonesia ingin menjadi kawan bagi semua pihak, tapi pantang menjadi pesuruh bagi siapa pun,” tuturnya lugas.