Kebakaran TNWK 673 Hektare, Pemkab dan Pemprov Lampung Kerahkan Seluruh Kekuatan

Kebakaran TNWK 673 Hektare, Pemkab dan Pemprov Lampung Kerahkan Seluruh Kekuatan
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menyoroti dugaan kejahatan lingkungan di balik kebakaran Taman Nasional Way Kambas.

Kirka – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghanguskan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Sejak Jumat, 21 Agustus, jilatan api menyapu lahan seluas 673,4 hektare.

Titik awal kemunculan api terdeteksi di area Jati 3, lalu merembet cepat ke Rawa Mbah Sapon akibat tiupan angin kencang.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, berpendapat rentetan karhutla di kawasan konservasi Lampung seringkali memiliki pola serupa.

Ia menduga kuat ada unsur kesengajaan di balik rentetan bencana tahunan.

“Berdasarkan teori kejahatan lingkungan, pembakaran hutan kerap menjadi cara bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk membuka akses perburuan liar,” ungkap Mahendra, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kecurigaan Mahendra sejalan dengan temuan pihak balai taman nasional di lapangan.

Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, membenarkan dugaan sabotase.

“Saya yakinnya begitu. Ada dugaan seperti tahun-tahun sebelumnya, sengaja dibakar oleh pemburu liar,” tegas Zaidi.

Zaidi memaparkan, tim pemadam kesulitan menjangkau titik lokasi karena akses jalan tertutup bagi kendaraan bermotor.

Petugas terpaksa berjalan kaki menembus medan berat.

“Kondisi lapangan sangat kering dan tidak ada air,” tambahnya.

Musibah karhutla Way Kambas memang menyisakan catatan kelam.

Pada Januari lalu, amukan api sempat melahap lahan luasan lahan lebih dari 2.600 hektare.

Menyikapi meluasnya area terdampak, Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Timur menyiagakan kekuatan penuh.

Ratusan personel gabungan dari Polhut, Polsek, hingga Koramil langsung diturunkan ke lokasi.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, memastikan seluruh elemen telah turun tangan melakukan penanganan darurat.

“Kita bukan monitor lagi, kita sudah bergerak,” kata Rudy.

Upaya pemadaman lewat jalur udara turut dikerahkan. Operasi water bombing mulai berjalan pada Minggu pagi.

Selanjutnya, modifikasi cuaca atau hujan buatan hasil koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) siap dieksekusi pada Senin, 24 Agustus.

Dukungan personel juga datang dari Kodam XXI/Radin Inten yang menerjunkan pasukan Yonif TP 943/DPC.

Pasukan darat TNI membawa perlengkapan lengkap, mulai dari armada pemadam, tangki air, sampai unit drone pemantau.

Melihat kerasnya upaya di lapangan, Mahendra memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh petugas, TNI, Polri, dan relawan masyarakat.

Ia menyebut elemen gabungan sebagai pahlawan lingkungan karena rela bertahan di tengah cuaca ekstrem berbekal peralatan manual seadanya.

“Ke depan, mitigasi serta penegakan hukum bagi pelaku pembakaran liar harus menjadi prioritas utama.

“TNWK adalah rumah bagi gajah Sumatera dan aneka satwa dilindungi, kita tidak boleh kehilangan mereka,” tutup Mahendra.