Inovasi Alat Ukur Pati Singkong Itera Pacu Hilirisasi Lampung

Inovasi Alat Ukur Pati Singkong Itera Pacu Hilirisasi Lampung
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai inovasi teknologi ukur SmartCassava rancangan Itera sebagai langkah tepat untuk melindungi nilai jual panen petani sekaligus mempercepat ekosistem hilirisasi komoditas singkong di Provinsi Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Penentuan kadar pati singkong sering merugikan petani akibat ketiadaan alat ukur pasti.

Menjawab keluhan lapangan, akademisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan SmartCassava bagi Kelompok Tani Wong Kito 1 di Desa Sindang Anom, Kabupaten Lampung Timur.

Inovasi instrumen presisi sukses memangkas kebiasaan tradisional pekebun sekaligus menyokong program hilirisasi komoditas daerah.

Bertahun-tahun lamanya, pekebun mengandalkan insting.

Mereka biasa mematahkan atau menggigit umbi untuk menebak kualitas panen. Praktik usang perlahan ditinggalkan.

Peranti SmartCassava bekerja membedah mutu lewat metode densitas Archimedes, yakni membandingkan berat singkong saat berada di udara dan di dalam air.

Sistemnya ditopang sensor beban 100 kilogram bersama mikrokontroler ESP32, lalu memunculkan angka akurat langsung pada layar LCD.

“Kami menyajikan informasi mutu agar pekebun punya data pembanding saat menjual hasil panen ke pabrik,” jelas Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Itera, Yusuf Affandi.

Manfaat langsung diakui Sunartoyo selaku Ketua Kelompok Tani Wong Kito 1.

Kepastian persentase pati amat menolong stabilitas harga jual, karena petani memegang angka valid sebagai alat tawar jika pabrikan menyodorkan hasil tes berbeda.

Merespons lahirnya teknologi tepat guna, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai terobosan kampus sejalan dengan cetak biru kebijakan daerah.

Baginya, hilirisasi mustahil berjalan mulus tanpa modernisasi perkakas di tingkat hulu.

“Petani sekarang berpijak pada data objektif, bukan tebak-tebakan.

“Otomatis, rasa percaya diri mereka naik dan posisinya dalam rantai pasok industri tapioka jauh lebih setara,” kata Mahendra memberikan analisis, Minggu, 16 Agustus 2026.

Pandangan sang pengamat bersinggungan erat dengan target Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang berniat mengubah ekosistem bahan mentah menjadi produk bernilai jual global.

Keseriusan pemerintah terlihat dari pelepasan ekspor perdana 3.300 ton tepung tapioka ke Tiongkok bernilai Rp26 miliar beberapa waktu lalu, makin mengukuhkan dominasi Lampung sebagai lumbung singkong nasional.

Pemerintah provinsi juga tengah mematangkan pengembangan Modified Cassava Flour (mocaf) di Pringsewu serta merancang National Cassava Center.

Seluruh rencana besar membidik lonjakan perputaran ekonomi hingga lima kali lipat bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Menutup penjelasannya, Mahendra meyakini integrasi riset dan alat bantu canggih merupakan syarat mutlak sebuah kemajuan.

“Instrumen buatan Itera adalah jembatan yang mempertemukan keringat petani dengan standar kualitas pasar internasional,” urainya.