Untukmu, Kader PKB, Penjaga Amanat Konstitusi

Untukmu, Kader PKB, Penjaga Amanat Konstitusi
Pesan Eksponen 98 Mahendra Utama kepada Kader PKB: Tegakkan amanat Konstitusi melalui Pasal 33 dan 34 untuk keadilan sosial. Foto: Arsip pribadi/Kirka

KirkaUntukmu, Kader PKB, Penjaga Amanat Konstitusi, karya Mahendra Utama, adalah puisi yang dasarnya bentuk apresiasi dan penegasan sikap politik sekaligus ekonomi dari para kader Partai Kebangkitan Bangsa.

Di bait-bait awal, Mahendra menyoroti penggunaan istilah “Prabowonomics” oleh para kader bukan sebagai bentuk kultus individu terhadap sosok Presiden Prabowo, melainkan sebagai sebuah simbol pergerakan.

Istilah tersebut dimaknai sebagai wadah atau kendaraan untuk mengembalikan arah ekonomi Indonesia kepada amanat konstitusi yang sejati, khususnya Pasal 33 UUD 1945.

Pasal ini menegaskan bahwa kekayaan alam bumi dan air Indonesia harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir oligarki.

Lebih jauh lagi, puisi menggambarkan momen perayaan Harlah PKB ke-28 sebagai titik penegasan komitmen para kader untuk mengawal “Ekonomi Konstitusi” dan kemandirian bangsa.

Mahendra juga menyinggung kerendahan hati sang Presiden yang menganggap istilah “Prabowonomics” tidak pantas disematkan hanya pada dirinya atau partainya sendiri, karena ruh dari sistem ekonomi ini sebenarnya adalah warisan dari para pendiri bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Selain Pasal 33, puisi juga mengangkat Pasal 34 UUD 1945, di mana PKB memposisikan diri sebagai penjaga rakyat kecil, fakir miskin, dan kaum yang lemah, mewujudkan sebuah Ekonomi Pancasila yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan kolektif seluruh rakyat Indonesia.

 

Untukmu, Kader PKB, Penjaga Amanat Konstitusi

 

Karya: Mahendra Utama

 

(Simbol Dukungan yang Menggerakkan Kesadaran Kolektif)

 

Di balik warna putih yang kau kenakan,

Terukir satu kata, “Prabowonomics”,

Bukan sekadar nama yang kau serukan,

Namun nyala api, tekad ekonomi yang pasrah,

Menepis keraguan dengan amalan yang konsekuen.

 

Kau pahami, wahai kader sejati,

Bahwa nama itu hanya wadah kecil,

Sementara jiwanya adalah Pasal 33 yang sakral,

Menggenggam bumi dan air untuk kesejahteraan, Bukan untuk segelintir yang serakah.

 

Meski Presiden berkata, “Tiada pantas nama ini”,

Ia tersentuh oleh kesungguhan kalian,

Gerindra pun tak diizinkan menyandangnya,

Karena ini bukan tentang dirinya seorang,

Melainkan roh perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, dan para pendahulu.

 

Di Harlah ke-28, kau tegaskan komitmen,

Ekonomi Konstitusi bukanlah wacana,

Melainkan jalan kemandirian bangsa,

Menjaga fakir miskin, memelihara yang lemah,

Itulah implementasi Pasal 34 yang kau kawal.

 

Biarlah sejarah mencatat langkah ini,

Saat kader PKB berani bersuara lewat simbol,

Menggerakkan kesadaran akan amanat rakyat,

Prabowonomics adalah milik kita semua,

Itulah ekonomi Pancasila yang sejati.

 

Catatan: Penulis Mahendra Utama adalah Eksponen 98.