Kirka – Melimpahnya hasil bumi tak menjamin tingginya kesejahteraan jika hanya dijual sebagai barang mentah.
Menyadari realita itu, Provinsi Lampung kini diproyeksikan segera bermetamorfosis dari sekadar kebun umbi-umbian raksasa menjadi episentrum industri olahan singkong skala nasional.
Optimisme kementerian Perindustrian (Kemenperin) rupanya sangat beralasan.
Berdasarkan data kementerian, panen singkong dari Bumi Ruwa Jurai telah menembus angka 7,9 juta ton per tahun.
Volume fantastis itu sukses mendominasi 51 persen total suplai se-Indonesia.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menegaskan daerah penghasil bahan baku wajib menikmati nilai tambah ekonomi tertinggi.
Karena itu, hilirisasi menjadi jalan mutlak yang harus segera dieksekusi agar kekayaan alam tidak mengalir ke luar daerah dengan harga murah.
“Sejalan dengan arahan Bapak Presiden mengenai percepatan industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam.
“Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tapi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi,” urai Faisol saat membuka program pendampingan ratusan pelaku usaha di Kabupaten Lampung Timur, Kamis, 16 Juli 2026.
Langkah agresif menggarap sektor pangan didorong oleh tren pasar yang menjanjikan.
Secara nasional, subsektor makanan dan minuman tumbuh agresif hingga 7,04 persen pada triwulan pertama tahun berjalan.
Bahkan, gairah perdagangan luar negeri untuk komoditas turunan singkong sedang memuncak.
Laju ekspor meroket 73,14 persen, berbarengan dengan turunnya masuknya produk impor sebesar 35,47 persen.
Memanfaatkan momentum emas pasar, pemerintah langsung turun tangan menyasar pabrikan kecil di akar rumput.
Seratus pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Lampung Timur digembleng agar naik kelas dan masuk ke rantai pasok pabrik berskala besar.
Faisol menilai penyelarasan standar mutlak diperlukan agar kemitraan bisnis bisa terjalin.
“Kemitraan akan membuka akses pasar, meningkatkan kepastian permintaan, sekaligus mendorong IKM untuk terus meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, dan konsistensi pasokan sesuai kebutuhan industri nasional,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, memaparkan skema pembinaan yang dilakukan secara bertahap.
Seluruh peserta dibekali pemahaman mendalam mencakup akses pembiayaan, legalitas usaha, hingga manajemen bisnis.
“Tahapan selanjutnya adalah pendampingan teknis yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta bagaimana proses produksi yang memenuhi persyaratan keamanan pangan.
“Lalu kami juga melakukan pendampingan diversifikasi olahan dari singkong,” jelas Reni.
Menariknya, metode bimbingan teknis tidak didominasi teori di dalam ruangan.
Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris, menyebutkan porsi pembelajaran berfokus 70 persen pada praktik lapangan yang dikawal langsung oleh pakar ahli pangan (Food Standard Consultant).
“Metode ini dapat memberikan pemahaman dan pembinaan yang berkelanjutan bagi para pelaku IKM olahan singkong, yang tentu saja disinergikan erat dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur,” papar Afrizal.
Balai Diklat Industri
Selain menggarap mutu produk, perombakan wajah industri daerah membutuhkan ketersediaan tenaga kerja ahli dalam jangka panjang.
Menjawab tantangan baru, pemerintah pusat dan daerah bersepakat untuk membangun Balai Diklat Industri (BDI) yang khusus mencetak sumber daya manusia (SDM) terampil sektor agro.
Faisol Riza membidik skema kerja cepat layaknya negara-negara maju agar fasilitas pelatihan bisa segera beroperasi.
“Kita tidak ingin meniru jatuh bangunnya, tetapi kita ingin meniru bagaimana cara cepat sukses China membangun hilirisasi dan industrialisasi.
“Pokoknya kita bangun bersama-sama. Mudah-mudahan akhir tahun atau tahun depan sudah mulai,” ucap Faisol memotivasi.
Menyahuti rencana kolaborasi strategis dari pusat, Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, memastikan jajarannya sudah bergerak membereskan berbagai urusan birokrasi dan administrasi di tingkat daerah.
Menurut Jihan, hadirnya pusat pelatihan industri merupakan sinyal kuat kelayakan daerahnya memimpin pengembangan manufaktur terpadu di Pulau Sumatera.
“Kita masih terus berproses dan berkoordinasi, mulai dari kelengkapan administrasi, pembebasan lahan, hingga teknis lainnya.
“Kami juga sedang mensosialisasikan peluang ini kepada para investor. Mengingat, Pak Wamen akan mengawal langsung tumbuhnya industri di Lampung,” pungkas Jihan.






