Kirka – Provinsi Lampung tengah dihadapkan pada sebuah paradoks sektor pertanian yang cukup membebani para peternak lokal.
Meski berstatus sebagai salah satu lumbung jagung nasional dengan produksi mencapai 1,7 juta ton per tahun, peternak di daerah sentra justru masih harus membeli pakan dengan harga tinggi.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa akar masalah dari anomali tersebut terletak pada rantai distribusi yang terlalu panjang dan tidak efisien.
“Ada paradoks yang menyakitkan di Lampung. Jagung harus menempuh perjalanan jauh dari desa ke fasilitas pengering di Lampung Selatan, lalu masuk ke pabrik pakan, dan akhirnya dikirim kembali ke desa.
“Rantai distribusi yang boros tentu menggerus margin keuntungan peternak kecil,” ungkap Mahendra Utama, Kamis, 14 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa panjangnya jalur distribusi logistik mengakibatkan Provinsi Lampung kehilangan potensi nilai tambah ekonomi yang seharusnya bisa dikunci di dalam daerah.
Untuk memecahkan persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung melalui arahan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal telah merancang langkah strategis lewat program Desaku Maju.
Program unggulan tersebut menitikberatkan pada pembangunan dryer (mesin pengering jagung) serta pabrik pakan skala mini secara masif di 500 desa sentra produksi.
Menurut Mahendra, logika dari gagasan gubernur sangat sederhana namun memiliki dampak revolusioner bagi perekonomian desa.
“Visi Bapak Gubernur sangat jernih. Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, ayam dibesarkan dan diproses di desa, lalu masuk ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di desa, kita bisa memangkas biaya logistik secara drastis.
“Eksekusinya akan meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat konsumsi protein masyarakat,” urainya.
Agribisnis dan BUMDes
Konsep pabrik pakan mini tingkat desa sangat sejalan dengan teori klaster agribisnis yang kini menjadi fondasi pembangunan peternakan modern.
Kedekatan antara pusat produksi bahan baku, pabrik pakan, dan sentra peternakan dinilai menjadi kunci utama terciptanya efisiensi.
Strategi Pemprov Lampung rupanya beririsan dengan kajian Kementerian Pertanian (Kementan) yang menjadikan Lampung sebagai satu dari lima provinsi percontohan.
Model yang dikembangkan Kementan berfokus pada penggabungan enam unit usaha dalam satu sistem terpadu mulai dari pabrik pakan unggas hingga pabrik pengolahan nugget dan tepung telur untuk menekan tingginya ongkos kirim antar wilayah.
Kendati demikian, Mahendra menekankan bahwa ujung tombak dari keberhasilan model hilirisasi berada di tangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Dari sekitar 2.300 BUMDes berbadan hukum di Lampung, baru sebagian kecil yang benar-benar aktif.
“Penguatan BUMDes sebagai offtaker komoditas lokal dan pengelola pabrik pakan mini harus dijadikan prioritas.
“Pabrik pakan berbasis koperasi adalah solusi paling efisien bagi peternak rakyat,” tegas eks Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh tersebut.
Sebagai langkah konkret guna mewujudkan SDM mumpuni, Pemprov Lampung juga telah menggandeng Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).
Sinergi yang didorong langsung oleh Gubernur Rahmat Mirzani bertujuan untuk melakukan riset pakan ternak berbasis komoditas lokal dan memperkuat pendidikan vokasi pedesaan.
“Langkah visioner kolaborasi akademik mampu menjembatani riset dengan kebutuhan riil peternak kita di lapangan.
“Pakan adalah fondasinya. Jika fondasi pakan mandiri kokoh di tingkat desa, maka seluruh bangunan besar hilirisasi peternakan di Lampung akan berdiri tegak,” pungkas Mahendra.






