Kirka – Provinsi Lampung selalu menghadapi masalah berulang setiap musim panen raya.
Melimpahnya produksi jagung di sentra-sentra pertanian justru dibarengi dengan kemerosotan harga jual.
Tingginya kadar air menjadi celah bagi tengkulak untuk menekan harga beli.
Merespons kondisi pelik yang membelit masyarakat desa, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menggulirkan program pengadaan 114 unit mesin pengering (bed dryer) secara bertahap hingga tahun 2026.
Alat pasca panen disiapkan khusus untuk memotong rantai kerugian di tingkat akar rumput.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang langkah pemerintah provinsi sebagai intervensi penyelesaian akar masalah.
Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung bidang Perindustrian dan Perdagangan ini menyoroti kelemahan mendasar yang membuat petani selalu berada di pihak yang kalah saat bertransaksi.
“Selama bertahun-tahun, petani selalu terdesak oleh tingginya kadar air jagung. Ketergantungan mutlak pada panas matahari membuat kualitas panen rentan merosot.
“Lantaran butuh uang cepat dan takut komoditas berjamur, petani terpaksa melepas hasil panen dengan harga murah,” kata Mahendra, Rabu, 13 Mei 2026.
Program pengadaan sarana berjalan di bawah payung visi Desaku Maju.
Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025, pemerintah mulai mendistribusikan 34 unit mesin berkapasitas 20 ton kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Langkah konkret berlanjut pada APBD 2026 lewat tambahan 80 unit baru.
Kelak, 114 Gapoktan akan memegang kendali penuh mengelola fasilitas secara mandiri.
Realisasi di lapangan ditopang oleh kerja lintas sektor.
Dukungan penganggaran dari jajaran DPRD berpadu dengan eksekusi Dinas Perindustrian dan Perdagangan di bawah komando Zimmi Skil, serta Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura yang dipimpin Elvira.
Para penyuluh pertanian bertugas mendampingi kelompok tani guna memastikan mesin beroperasi maksimal, bukan berujung mangkrak.
Hitungan ekonomi dari operasional mesin memperlihatkan potensi penerimaan baru bagi masyarakat perdesaan.
Satu unit sanggup menyelesaikan siklus pengeringan 20 ton jagung dalam dua hingga tiga hari.
Melalui asumsi 120 siklus setahun, kapasitas satu alat mencapai 2.400 ton.
Apabila seluruh fasilitas beroperasi serentak, volume jagung yang berhasil dikeringkan bisa menembus 273.600 ton per tahun.
“Selisih harga jual jagung basah dan kering di pasaran rata-rata terpaut Rp1.000 per kilogram. Jika diakumulasikan, tercipta potensi tambahan pendapatan kotor senilai Rp273,6 miliar setiap tahun.
“Angka luar biasa yang sebelumnya lenyap akibat ketidakberdayaan pascapanen,” urai tokoh Eksponen 98 itu.
Fenomena lompatan pendapatan, lanjut Mahendra, juga sangat sejalan dengan konsep nilai tambah (value added) rumusan ekonom Thomas Friedman.
Kebijakan meletakkan peralatan pasca panen langsung di tingkat desa menata fondasi kemandirian ekonomi sekaligus memutus ketergantungan pada pengepul besar.
“Keunggulan daerah tidak lagi sekadar diukur dari seberapa banyak bahan mentah diproduksi, melainkan seberapa mumpuni kita melakukan peningkatan vertikal dalam rantai pasok.
“Mesin pengering menaikkan posisi tawar petani dari sekadar pemasok barang mentah menjadi penyedia produk setengah jadi bernilai tinggi,” pungkasnya.






