Kirka – Langkah terobosan terus digeber oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, demi mengangkat taraf hidup petani lewat visi bertajuk Desaku Maju.
Rencana besar mulai dieksekusi secara bertahap melalui alokasi APBD 2025, di mana 34 unit mesin pengering jagung (bed dryer) berkapasitas 20 ton telah disalurkan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di berbagai sentra produksi.
Komitmen pemberdayaan rupanya tidak berhenti sampai di situ. Pada APBD 2026, Pemerintah Provinsi Lampung bersiap meluncurkan tambahan 80 unit dryer baru.
Targetnya, kelak beroperasi 114 unit mesin yang dikelola langsung oleh 114 Gapoktan yang tersebar di seluruh kabupaten.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah proyeksi keuntungan ekonomi dari total fasilitas pendukung pertanian yang dikucurkan Pemprov.
Jika seluruh mesin beroperasi maksimal, kapasitas pengeringan mampu menembus angka 273.600 ton per tahun.
“Dari volume sebesar itu, potensi pendapatan kotor bisa menyentuh Rp273,6 miliar. Tentu pengoperasiannya butuh BBM, listrik, upah pekerja, dan biaya perawatan rutin.
“Kalau kita asumsikan beban operasional di angka Rp300 per kilogram, maka pengeluarannya sekitar Rp82,08 miliar.
“Sisanya, yakni sekitar Rp191 miliar lebih, murni menjadi keuntungan bersih bagi petani,” urai Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 13 Mei 2026.
Angka fantastis yang terpotret dari hitungan di atas merupakan kekayaan yang selama bertahun-tahun lenyap begitu saja.
Dulu, banyak petani terpaksa melego hasil panen dalam keadaan basah akibat himpitan kebutuhan, sehingga harga selalu anjlok drastis saat musim panen raya tiba.
Kehadiran seratusan mesin pengering diyakini perlahan mengubah nasib para pahlawan pangan.
Lewat fasilitas pengering, harga jagung pipilan berpotensi stabil di level Rp5.500 hingga Rp5.600 per kilogram.
Aliran dana ratusan miliar yang kelak berputar di 114 desa sentra jagung otomatis melahirkan efek pengganda (multiplier effect).
Warung kelontong makin laris, jasa angkutan desa kembali menggeliat, dan serapan tenaga kerja baru untuk posisi operator mesin langsung terbuka lebar.
Lompatan PDRB
Momentum positif sektor riil diyakini bakal terus merangkak naik apabila visi hilirisasi berlanjut menuju tahap produksi pakan ternak.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung bahkan memproyeksikan sumbangsih komoditas jagung pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kelak sanggup melesat dari 3,4 persen menuju 15 persen.
Skema pembangunan bottom up mulai menemukan bentuk wujudnya, menempatkan desa sebagai motor utama penggerak ekonomi.
Demi mengawal target besar sekaligus mencegah aset negara mangkrak di kemudian hari, pengawasan lapangan disiapkan secara berlapis.
Disperindag di bawah komando Zimmi Skill berkolaborasi intens dengan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH), Elvira, yang telah menerjunkan tim Monitoring dan Evaluasi (Monev).
Tim bertugas memantau pemanfaatan fasilitas di tingkat Gapoktan agar tata kelolanya berjalan transparan serta akuntabel.
“Proyeksi nilai tambah Rp191 miliar per tahun nantinya baru sebatas fondasi awal.
“Lewat program hilirisasi Desaku Maju, kita sama-sama sedang melihat bukti nyata bahwa kemandirian pangan sangat bisa berjalan berdampingan dengan kesejahteraan masyarakat desa,” pungkas Mahendra.






