Target Panen Tembus 12 Ton, POC Jadi Primadona Baru Pertanian Lampung

Target Panen Tembus 12 Ton, POC Jadi Primadona Baru Pertanian Lampung
POC kini menjadi primadona baru yang meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan petani Lampung. Foto: Arsip Istimewa/Kirka/I

Kirka – Ketergantungan menahun pada pupuk kimia yang mahal secara perlahan mulai ditinggalkan oleh para pahlawan pangan di Provinsi Lampung.

Transisi menuju pola pertanian berkelanjutan lewat aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) atau Suplemen Tanah Cair (STC) kini membuktikan tajinya.

Bukan sekadar menekan ongkos produksi, inovasi ini sukses memicu lonjakan produktivitas lintas komoditas secara drastis di berbagai kabupaten.

Fakta di lapangan menunjukkan perubahan yang amat kontras.

Jika pada musim tanam sebelumnya rata-rata panen padi hanya mentok di angka 7 hingga 8 ton per hektare, intervensi nutrisi organik kini memproyeksikan target panen yang fantastis, 10 hingga 12 ton.

Bahkan, pada luasan lahan seperempat hektare saja, petani sudah sanggup meraup gabah lebih dari 3 ton.

Lonjakan ini dikonfirmasi langsung oleh Joko Surono, petani dari Kelompok Tani Trimulyo Jaya 1 di Kecamatan Banjar Agung, Tulang Bawang.

Mengombinasikan bibit padi Inpago dengan POC, hasil panen di lahan darat miliknya melompat dari 3 ton menjadi 4 ton per hektare.

“Kami sekarang bisa memangkas ketergantungan pupuk kimia hingga 85 persen. Sisanya, sekitar 15 persen, kimia hanya sekadar pendamping,” tuturnya, dilansir pada Jumat, 27 Maret 2026.

Keunggulan visual tanaman pun tak bisa dibohongi.

Di lahan milik Hi Kasino, Kecamatan Anak Ratu Aji, Lampung Tengah, batang padi tumbuh kokoh menyentuh tinggi lebih dari 150 sentimeter dengan daun hijau segar.

Penggunaan POC yang disemprotkan secara rutin, bahkan pada Musim Tanam 3 (MT 3) yang rawan hama, terbukti memperkuat daya tahan tanaman dari serangan penyakit.

Anggota Gapoktan Maju Lestari yang mengaplikasikan POC hingga delapan kali dalam semusim melaporkan keluarnya malai padi yang jauh lebih serempak dan bernas.

Efisiensi Biaya

Beralih dari sawah, efisiensi skala besar juga dinikmati para petani jagung.

Di Kecamatan Anak Ratu Aji, biaya produksi tak lagi mencekik leher.

Jika lazimnya 1 hektare lahan menelan 6 kuintal pupuk kimia, kini mereka cukup menebar 3 kuintal saja yang dikombinasikan dengan STC.

Anggota Gapoktan Karya Jejama mengamini hal tersebut.

Melalui dua kali metode kocor sebelum tanam dan saat tanaman berusia 20 hari, pertumbuhan jagung terbukti lebih seragam dengan ukuran tongkol yang membengkak.

Penghematan hingga 50 persen ini memberi ruang napas bagi ekonomi rumah tangga petani di tengah fluktuasi harga saprotan (sarana produksi pertanian).

Hortikultura dan Perkebunan

Keampuhan cairan organik tersebut tak berhenti pada tanaman pangan.

STC menjelma menjadi obat mujarab bagi sektor hortikultura dan perkebunan.

Di Pringsewu, tanaman Anggur Brasil milik Saryanto dari Gapoktan Multi Guna yang bertahun-tahun macet, kini memuntahkan bunga tiada henti dan berbuah lebat hanya dalam tempo satu bulan aplikasi.

Pemandangan tak kalah mengejutkan tersaji di Kecamatan Hulu Sungkai, Lampung Utara.

Sayuran tumbuh melampaui ukuran normal, kacang panjang menjuntai hingga setengah meter, sementara kangkung dan caisim (sawi) memamerkan daun yang luar biasa lebar.

Menariknya, sayuran raksasa itu tetap mulus dan kebal dari invasi kutu kebul maupun ulat.

Tren positif juga merambah ke Lampung Barat.

Tanaman Kopi Robusta klon Bagio yang dirawat dari nol, mampu mengeluarkan bakal bunga di semua cabang hanya dalam waktu satu tahun berkat asupan POC.

Singkong, Melon, dan alpukat di wilayah sentra pun menunjukkan perbaikan warna daun dan ketegakan batang yang signifikan.

Tiga faktor utama, hemat biaya, perbaikan struktur tanah, dan lonjakan kualitas panen kini menjadi alasan rasional mengapa petani Lampung berbondong-bondong hijrah ke organik.

Melihat dampak nyata yang sukses mengubah nasib di lapangan, kalangan petani kini menaruh harapan besar kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Mereka mendesak agar program bantuan dan edukasi STC/POC ini tidak berhenti di tengah jalan.

Keberlanjutan program dinilai krusial untuk menjadikan petani mandiri, sekaligus mengukuhkan posisi Bumi Ruwa Jurai sebagai lumbung pangan nasional yang tak lagi tersandera oleh krisis pupuk kimia.