Kirka – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada berbagai pihak yang terus berjuang mewujudkan kehadiran pasar hewan modern di Provinsi Lampung.
Menurutnya, meski di tengah keterbatasan infrastruktur saat ini, dedikasi para pemangku kepentingan dan pelaku usaha patut mendapat acungan jempol.
Hal tersebut disampaikan Mahendra saat menyoroti kinerja Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung yang bersinergi dengan Balai Veteriner Lampung.
Ia menilai kedua instansi tersebut telah bekerja maksimal dalam menjamin kualitas pangan masyarakat.
“Dinas Peternakan patut mendapat acungan jempol.
“Di tengah infrastruktur pasar yang terbatas, mereka rutin melakukan pengujian cepat (rapid test) formalin dan pH daging, baik di pasar tradisional maupun pasar modern untuk memastikan daging yang beredar aman dikonsumsi,” ujar Mahendra, Kamis, 12 Maret 2026.
Mahendra mencontohkan pengawasan ketat yang dilakukan menjelang Idul Fitri 2026.
Tim dari dinas terkait langsung turun ke lapangan untuk memeriksa pH daging sapi, uji formalin pada daging ayam, serta memeriksa telur berlabel NKV (Nomor Kontrol Veteriner) di titik-titik vital seperti Pasar Tradisional Gudang Lelang dan Pasar Modern Chandra.
“Fakta di lapangan ini membuktikan bahwa secara Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan, kita sebenarnya sudah sangat siap untuk mengelola pasar hewan modern,” tegasnya.
Selain jajaran eksekutif provinsi, Mahendra juga mengapresiasi langkah konkret Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Tengah atas peresmian pasar hewan di Kecamatan Bekri pada Januari 2024 lalu.
Ia berharap lokasi tersebut dapat terus dikembangkan menjadi pasar induk hewan sapi terpadu.
“Langkah ini menunjukkan adanya kesadaran dari pemerintah daerah bahwa pasar hewan adalah infrastruktur yang sangat vital.
“Kita juga harus menyebut peran DPRD Lampung yang terus mengawal anggaran pembangunan peternakan.
“Dukungan politik di parlemen sangat menentukan realisasi pasar hewan modern ini,” jelas Mahendra.
Meski dukungan birokrasi dan politik sangat penting, Mahendra menegaskan bahwa apresiasi paling utama harus ditujukan kepada para peternak dan pedagang.
Merekalah pejuang sesungguhnya yang setiap hari menggerakkan roda ekonomi di pasar tradisional dengan segala keterbatasannya.
Hal ini sejalan dengan aspirasi para pelaku usaha di lapangan.
Rudi, salah seorang pedagang asal Empat Lawang, Sumatera Selatan, yang rutin menyerap hingga 100 ekor kambing dari Lampung, menyuarakan harapan ribuan pelaku usaha lainnya.
“Saya berharap ke depan Pemkab Lampung Tengah bisa membangun pasar kambing yang modern, sehingga bisa terlihat lebih rapi, bersih, dan nyaman untuk transaksi,” harap Rudi.
Merespons aspirasi tersebut, Mahendra menegaskan bahwa masukan dari para pedagang harus menjadi pendorong utama bagi pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan infrastruktur peternakan yang layak.
“Suara mereka, para pedagang dan peternak di lapangan, adalah energi yang seharusnya menggerakkan kita semua untuk segera mewujudkan pasar hewan modern di Lampung,” pungkasnya.






