Kirka – Singapura nyaris tidak memiliki lahan peternakan yang luas.
Namun, negara pulau tersebut sukses menyulap ekosistem kesehatan hewan menjadi ladang bisnis bernilai miliaran rupiah.
Fakta inilah yang memantik sorotan tajam Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, terhadap arah kebijakan sektor peternakan di Provinsi Lampung.
Menurut Bang Mahe, sapaan akrabnya, sudah saatnya pemerintah daerah dan masyarakat meninggalkan paradigma usang yang memandang pasar hewan hanya sebatas tempat transaksi jual-beli ternak tradisional.
Dengan modal ribuan hektare lahan peternakan yang membentang di berbagai kabupaten, Lampung dinilai memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh untuk melampaui lompatan ekonomi Singapura di sektor ini.
“Singapura telah membuktikan bahwa ekosistem kesehatan hewan bukan sekadar urusan hobi atau peternakan, melainkan ceruk bisnis raksasa,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Kamis, 12 Maret 2026.
Sebagai perbandingan, Mahendra mengutip data analisis dari Daniel Choy, CEO Petico dan Perromart Singapura.
Pasar perawatan hewan di negara berpenduduk enam juta jiwa itu diproyeksikan melonjak tajam hingga 22 persen, menyentuh angka S$111,9 juta pada 2025.
Bahkan, rata-rata pengeluaran per hewan peliharaan di Singapura kini menembus S$195 per bulan.
Tren premium ini membuat pasar perawatan hewan mereka mencapai setengah dari ukuran pasar Malaysia, yang notabene memiliki populasi jauh lebih besar.
“Lalu, apa artinya ini bagi Lampung? Artinya, nilai ekonomi dari sektor kesehatan dan perawatan hewan itu sangat masif.
“Jika ekosistem ini dikelola dengan orientasi bisnis, perputaran uang yang dihasilkan akan luar biasa,” urainya.
Untuk menangkap peluang emas tersebut, Mahendra menawarkan gagasan konkret, pembangunan pasar hewan modern yang terintegrasi.
Fasilitas harus dilengkapi dengan klinik kesehatan hewan mumpuni, laboratorium pemeriksaan terstandar, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Dalam kacamata ekonomi makro, keberadaan pasar hewan terpadu ini bukan lagi sekadar bentuk pelayanan publik biasa, melainkan menjelma menjadi mesin ekonomi baru bagi daerah.
“Coba hitung, setiap ekor hewan yang diperiksa, setiap dosis vaksin yang diberikan, hingga setiap lembar surat keterangan kesehatan hewan yang diterbitkan adalah sumber pendapatan.
“Itu adalah rantai nilai tambah ekonomi yang sangat jelas,” tegas Mahendra.
Lebih jauh, ia menganalisis adanya korelasi kuat antara tren pasar hewan dan tingkat kesejahteraan daerah.
Sebagaimana hipotesis Daniel Choy, konsumsi untuk nutrisi dan kesehatan hewan selalu berbanding lurus dengan Produk Domestik Bruto (PDB) serta penghasilan masyarakat yang dapat dibelanjakan (disposable income).
Semakin sejahtera warga Lampung, laju perputaran uang di sektor peternakan dan kesehatan hewan akan semakin kencang.
Pasar modern akan berperan sebagai katalisator utama untuk mempercepat sirkulasi ekonomi tersebut.
Oleh karena itu, Mahendra secara khusus menantang arah kebijakan strategis dari pimpinan daerah.
“Kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, mari kita bedah peluang ini menggunakan kacamata bisnis dan investasi, bukan sekadar proyek sosial apalagi rutinitas birokrasi.
“Pasar hewan modern adalah fondasi ekonomi masa depan Lampung yang tidak boleh kita lewatkan,” pungkasnya.






