Kirka – Paradigma pasar hewan yang identik dengan lahan becek, kumuh, dan berbau menyengat sudah saatnya ditinggalkan.
Provinsi Lampung didorong untuk segera merintis pasar hewan modern berskala nasional yang dilengkapi fasilitas penunjang seperti klinik hingga hotel hewan.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa terobosan ini bukan sekadar untuk kenyamanan estetika, melainkan strategi jitu untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia menilai, Lampung tertinggal jika tidak segera mereplikasi kesuksesan Kabupaten Rembang dan Magetan yang sudah lebih dulu bergerak mengubah wajah pasar ternaknya.
“Lampung punya potensi luar biasa. Bayangkan jika kita memiliki fasilitas terpadu ini di Pasar Adijaya, Terbanggi Besar.
“Pedagang dari Palembang yang biasa memborong ratusan ekor kambing untuk Idul Adha, bisa menginapkan hewannya dengan aman sebelum menempuh perjalanan jauh,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 12 Maret 2026.
Dengan adanya fasilitas transit, peternak lokal maupun pedagang lintas provinsi tak perlu lagi khawatir akan penyusutan bobot atau memburuknya kesehatan ternak akibat kelelahan di jalan.
Rembang dan Magetan
Transformasi pasar ternak yang diusulkan Mahendra bukanlah tanpa preseden.
Ia merujuk pada langkah progresif Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Perdagangan yang saat ini tengah merombak Pasar Hewan Pamotan dengan fasilitas yang mencengangkan.
Selain los penjualan yang tertata, pasar tersebut akan dilengkapi dengan hotel hewan, rumah karantina, klinik kesehatan terpadu, hingga arena kontes hewan peliharaan maupun ternak.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Kepala Bidang Pasar dan PKL Rembang, Heri Martono, yang secara terbuka menyebut fasilitas mewah ini sebagai mesin pencetak uang daerah.
“Kami akan menawarkan fasilitas ini kepada pengangkut hewan dengan tarif retribusi yang sudah ditentukan, sehingga pasar ini juga bisa berkontribusi signifikan pada PAD,” jelas Heri.
Tak hanya Rembang, Kabupaten Magetan turut menjadi role model yang disorot Mahendra.
Magetan telah melangkah lebih jauh dengan mengimplementasikan sistem pengolahan limbah terpadu dan penggunaan timbangan digital berstandar untuk menjamin transparansi transaksi.
Kebutuhan akan fasilitas ini juga diamini oleh Kepala Bidang Pasar Disperindag Magetan, Kiki Indriyani.
Menurutnya, dinamika pengiriman hewan lintas daerah membutuhkan infrastruktur transit yang memadai.
“Pasar hewan ini banyak dikunjungi dari luar kota. Kadang pengiriman hewan ke luar Jawa perlu waktu, jadi kami sediakan tempat penitipan khusus sebelum dikirim,” ungkap Kiki.
Menantang Kemauan Politik Gubernur
Sebagai pintu gerbang utama yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa, Lampung sejatinya memiliki keunggulan komparatif yang jauh lebih strategis ketimbang daerah-daerah di Pulau Jawa.
Posisi geografis ini membuat Lampung berpeluang besar menjadi hub (pusat transit) niaga ternak antar provinsi terbesar di Sumatera.
Hambatan utamanya, kata Mahendra, hanyalah soal kemauan politik (political will) dan alokasi anggaran dari pemerintah daerah untuk memulai pembangunan.
Secara khusus, Mahendra melontarkan tantangan sekaligus ajakan kepada Gubernur Lampung.
Ia berharap visi pembangunan fasilitas tersebut bisa segera dieksekusi di era kepemimpinan saat ini.
“Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, mari wujudkan pasar hewan modern pertama di Sumatera yang memiliki hotel hewan dan klinik kesehatan.
“Anggaran untuk ini bukanlah sekadar pengeluaran, melainkan bentuk investasi jangka panjang yang akan berputar kembali menjadi PAD yang masif,” pungkas Mahendra.






