KIRKA.CO – Media periklanan Indonesia khususnya di Kota Bandar Lampung kini telah berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi masa kini.
Dimana yang teranyar dan terlihat asyik bagi masyarakat untuk mengalihkan pandangannya sejenak, melihat promosi produk terbaru apa yang tengah dipajang, ialah videotron.
Di Bandar Lampung sendiri kini telah berdiri beberapa videotron sebagai sarana media beriklan.
Tentunya dengan harga yang cukup fantastis namun dengan efisiensi media promosi yang cukup menjanjikan.
Para pengendara dan warga yang melintasi titik pemasangan videotron, sudah barang tentu melihat video apa yang tengah diputar di layar raksasa tersebut.

Akan tetapi di beberapa titik strategis pemasangan videotron malah menjadi keluhan masyarakat Kota Tapis Berseri.
Mereka mengeluhkan jenis atau konten iklan yang diputar, dimana salah satunya adalah iklan yang terdapat di videotron depan kantor Wali Kota Bandar Lampung.
Terlihat jelas berkali-kali pemasaran produk rokok muncul menemani para pengendara berhenti di lampu lalulintas.
Seperti yang disampaikan oleh Balqis (23) seorang Mahasiswi yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung.
Dirinya turut menyampaikan keluh kesahnya melihat iklan rokok yang sering muncul di layar raksasa depan perkantoran Pemkot.
Menurutnya hal itu sangat bertentangan dengan usaha negara yang sedang berusaha mengurangi tingkat perokok tiap tahunnya, dengan terus menerus berkampanye tentang bahayanya merokok.
“Saya sebenarnya agak risih melihat ada iklan produk rokok tayang di layar besar itu, apalagi media iklannya menempel di tembok pagar Kantor Wali Kota, kita juga kan tahu Pemerintah sendiri lagi berkampanye tentang bahayanya merokok, rasanya enggak sepantasnya saja ada iklan rokok yang kami tonton bareng setiap hari terpampang di depan kantor Pemerintahan,” ungkap Balqis.
Hal senada juga turut disampaikan oleh Poltak (19), seorang Mahasiswa rantau asal kota Pekanbaru yang tengah berkuliah di Bandar Lampung.
Dirinya menuturkan kekhawatirannya bahwa pembiaran iklan rokok yang tayang secara bebas selama ini, bisa saja pada suatu saat nanti hal tersebut dapat memicu pemasangan produk serupa di kawasan pendidikan.
“Iklan rokok itu saja bisa tayang bebas di depan gedung pemerintahan, saya khawatirnya nanti dari tempat itu lama kelamaan bisa makin menjadi ada iklan rokok yang kita lihat dipasang di lingkungan kampus, atau sekolah,” keluh Poltak.
Masyarakat pun berharap kepada pihak terkait, bahwa keluhannya tersebut dapat diterima dengan baik dan dijadikan sebuah pertimbangan untuk lebih berhati-hati lagi memberikan izin dan pengawasan terkait konten iklan sebuah produk yang ditayangkan pada titik pemasangan yang selayaknya.






