KIRKA – Ancaman resesi menghantui Inggris akibat melonjaknya harga energi sehingga menekan biaya hidup pengeluaran rumah tangga.
Negara Inggris dihantui ancaman resesi ekonomi dengan menurunnya penjualan di ritel.
Baca Juga: Kompensasi BBM Tahun 2022 Meningkat Tiga Kali Lipat
Kantor Data Statistik Inggris, Office for National Statistics (ONS), mencatat data volume penjualan ritel di Inggris turun 1,6% secara bulanan pada Agustus.
Penurunan ini terbesar sejak Desember 2021. Data Kantor Statistik Nasional juga menunjukkan mata uang pound turun lebih jauh menuju US$1,14.
Angka tersebut menjadi penurunan terburuk dari semua perkiraan dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom yang menunjukkan penurunan 0,5%.
Ancaman resesi menghantui Inggris kian nyata saat semua sektor ritel utama, dari toko makanan, toko non-makanan, ritel non-toko dan bahan bakar, turun selama sebulan untuk pertama kalinya sejak Juli 2021.
Penjualan ini turun ketika pembatasan Covid-19 pada perhotelan dicabut.
“Dengan datangnya musim dingin yang sulit, pengecer akan khawatir bahwa pembeli telah mengekang pengeluaran mereka meskipun musim panas,” kata Lynda Petherick, pemimpin ritel di Accenture, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu, 25 September 2022.
Masa berkabung setelah kematian Ratu Elizabeth II juga menimbulkan tantangan lain bagi industri ritel, dengan meluasnya penutupan bisnis pada Senin lalu untuk memeringati pemakaman ratu.
“Suasana suram di Inggris minggu ini dan berita pertumbuhan ekonomi yang lambat akan menambah rasa khawatir di kalangan pengecer karena cuaca semakin dingin,” kata Petherick.
Penduduk Inggris harus berjuang untuk hidup dengan kenaikan harga tertinggi sejak awal 1980-an, meskipun inflasi turun di bawah 10%.
Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh lonjakan harga energi setelah Rusia menginvasi Ukraina.
Kantor Statistik Nasional menyebutkan masyarakat Inggris mulai mengurangi pembelian furniture sejak bulan lalu.
“Umpan balik dari pengecer menunjukkan bahwa konsumen mengurangi pengeluaran karena kenaikan harga dan masalah keterjangkauan,” pungkas Petherick.






